Dia percaya pada takdir. Jalan hidupnya yang penuh onak dan duri diyakini bukanlah kebetulan. Ada semacam garis nasib yang membentang antara kampung halaman di pedalaman Pariaman, Sumatera Barat, hingga Leiden, Belanda, tempat ia bermukim sejak 10 tahun terakhir.
Suryadi memang tipikal perantau Minang. Ulet dan tahan banting. Hanya saja, sebagai perantau, ia tak menekuni sektor informal, sebagaimana profesi urang awak perantauan umumnya. Ia memilih jalur keilmuan melalui dunia akademik. Bidang yang ia tekuni pun tak terlalu umum: naskah-naskah lama!
Menjadi penelaah naskah dan buku klasik (bahasa kerennya filolog) memang bukan profesi yang bisa mengantarkannya menjadi selebritas, seperti fenomena para ”komentator” bidang ekonomi, politik, dan hukum di Tanah Air. Dari aspek ekonomi pun, profesi ini jauh dari menjanjikan kehidupan mewah dan berkecukupan.
Namun, di balik dunia yang sepi itu, ketika larut bersama naskah tua yang ia kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa, Suryadi mengaku menemukan ”dunia kecil”-nya itu justru luas membentang. Jalan kehidupan dia kian terbuka lebar.
”Ternyata saya tidak sendiri. Ada juga orang lain yang menyukai bidang ini, yang bisa menjadi teman dalam satu network keilmuan,” tuturnya.
Hasil penelitian yang ia publikasikan di sejumlah jurnal internasional banyak mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau, misalnya, dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance Project) yang berpusat di Australian National University, Camberra, Australia.
Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang menjadi pemakalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya memimpin satu proyek pernaskahan yang didanai the British Library.
Kajian komprehensif atas Syair Lampung Karam—satu-satunya sumber pribumi tentang letusan Gunung Krakatau tahun 1883, yang diikuti gelombang tsunami dan memorak-porandakan wilayah sekitar Selat Sunda (Kompas, 12 September 2008)—hanya satu dari sekian banyak teks Melayu klasik yang sudah ia teliti.
Syair dalam tulisan Arab-Melayu alias Jawi itu kemudian ia transliterasikan ke teks beraksara Latin, sebelum dibandingkannya dengan pandangan para penulis asing (baca: Eropa).
Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik mengenai Nusantara ternyata memberi keasyikan tersendiri bagi Suryadi. Perpustakaan KITLV dan Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia ”bersemedi”, intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial diangkut ke negeri Belanda.
”Saya seperti menyelam ke masa lalu. Banyak hal menarik dari bangsa kita yang terekam dari naskah-naskah lama. Kadang, sewaktu membaca, saya tertawa sendiri,” ujarnya.
Honor seadanya
Tahun 1998 menjadi semacam titik balik bagi Suryadi. Sejak September 1998 ia menetap di Belanda, negeri tempat naskah-naskah lama tentang Nusantara menumpuk. Ia memulai bekerja sebagai pengajar di Universiteit Leiden untuk penutur asli bahasa Indonesia .
Jalan menuju ke Leiden penuh tikungan. Setelah menunggu tanpa kepastian sebagai asisten dosen di Universitas Indonesia (UI, 1994-1998), pada pertengahan 1998 lowongan (vacature) mengajar di Universiteit Leiden datang. Peluang itu langsung ia tangkap. Lamarannya diterima.
”Ini sebenarnya soal jalan hidup saja. Soal pilihan,” kata Suryadi terkait kepergiannya dari UI.
Menunggu tanpa kepastian—juga tanpa masa depan yang jelas—seperti dilakoninya semasa menjadi asisten dosen di UI, bukan hal baru. Sebelumnya, saat diajak Lukman Ali (alm)—dan didukung filolog senior Achadiati Ikram—untuk merintis pengembangan studi Bahasa dan Sastra Minangkabau di UI, Suryadi sudah tiga tahun diterima sebagai asisten dosen di almamaternya: Universitas Andalas (Unand) di Padang.
Seperti halnya saat meninggalkan UI, di Unand pun ia menunggu tanpa kepastian kapan diangkat menjadi dosen tetap. Tentang hal ini, ia hanya berkata, ”Konon, kata mereka, karena tak ada posisi. Tapi anehnya, yang belakangan lulus dari saya diangkat jadi dosen. Saya tidak tahu kenapa?”
Begitu pun di UI. Hidup di Jakarta dari honor sebagai asisten dosen tentu sulit dibayangkan. Di tahun terakhirnya di UI , ia menerima Rp 70.000-an sebulan. Ini pun jauh lebih baik mengingat pada tahun awal ia mendapat honor Rp 35.000 sebulan.
Untuk biaya kontrak rumah saja tak cukup. Menyiasati keadaan ini, Suryadi mendekati teman-teman sesama asisten dosen. Dengan semangat gotong royong ia bersama empat teman bisa menyewa rumah kontrakan di Gang Fatimah, Depok, Jawa Barat.
Bagaimana untuk hidup sehari-hari? ”Saya terpaksa mencari obyekan. Misalnya, selama beberapa tahun saya membantu Ibu Pudentia di Asosiasi Tradisi Lisan. Barangkali memang tidak ada suratan tangan saya menjadi pegawai negeri,” katanya.
Masa kecil
Hidup di tengah penderitaan bukan hal baru baginya. Terlahir sebagai anak petani kebanyakan di Nagari Sunur, Pariaman, sejak kecil Suryadi hidup hanya dengan ibunya, Syamsiar. Orangtuanya bercerai. Ibunya kawin lagi, tetapi perkawinan itu pun bubar setelah memberi Suryadi satu adik lelaki bernama Mulyadi.
Di tengah kondisi serba pas-pasan, ia menamatkan SD di Sunur (1977). Kesulitan hidup juga menyertainya saat di SMP Negeri 3 Pariaman di Kurai Taji (1981). Begitu pun ketika menyelesaikan pendidikan lanjutannya di SMA Negeri 2 Pariaman (1985).
Akibat kesulitan biaya hidup, setamat SMA Suryadi tak bisa langsung kuliah. Setahun ia menganggur, sebelum masuk Unand di Padang. ”Saya masih ingat, Ibu menjual cincin satu-satunya untuk membayar uang masuk kuliah saya.”
Selama kuliah, ia mondok di rumah saudara ibunya, Emi. Suami Emi, Duski Sirun—yang dipanggil Suryadi dengan sebutan Apak—punya beberapa toko kain di Pasar Raya Padang . Di sinilah Suryadi kerja, membantu Apak-nya sambil kuliah. Tak ada gaji, kecuali imbalan tinggal dan makan gratis di rumah sang Apak, serta dibayarkan uang kuliah.
Begitulah selama lima tahun ia kerja siang-malam, termasuk kuliah. Pagi sekitar pukul 05.00 ia bangun dan segera ke pasar untuk membuka toko. ”Kalau ada kuliah, saya ’lari’ ke kampus, lalu kembali ke toko. Malam hari, di tengah rasa capek, saya ulangi pelajaran. Kadang sampai larut, padahal pagi-pagi saya harus bangun dan ke pasar membuka toko,” ujarnya.
Hidup memang butuh perjuangan. Pengelanaannya hingga bermukim di Leiden , meretas tradisi pengajar tamu bagi penutur asli bahasa Indonesia di Leiden yang maksimal lima tahun, tetap saja membutuhkan perjuangan baru. Ia merasa seperti pengelana (wanderer) yang tak punya rumah tetap, tempat berdiam.
Tak ingin pulang? ”Pasti saya tidak selamanya di Leiden . Suatu saat saya dan keluarga tentu pulang ke Indonesia , atau mungkin pindah rantau ke negara lain. Biasanya seorang wanderer selamanya akan jadi wanderer,” tambahnya.
Itulah Suryadi. Berbeda dengan slogan seorang politisi masa kini bahwa hidup adalah perbuatan, ia masih dibelenggu masa lalu: hidup adalah perjuangan! Entah sampai kapan….
Sumber: Kompas, Jumat, 17 Oktober 2008 (Rubrik Sosok)
http://cetak.kompas.com/read/2008/10/17/01325970/suryadi.pengelana.dari.pariaman
Jumat, 03 Juni 2011
Pariwisata Budaya (Orasi Ilmiah) Pariwisata Budaya dan Arkeologi Pariwisata di Sumatera
Senin, 21 April 2008
Oleh: DR. Herwandi, M. Hum
Yth. Rektor / Ketua Senat, dan para Pembantu Rektor Universitas Andalas,
Yth. Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenibud) Provin-si Sumatera Barat,
Yth. Kepala Museum Adityawarman, Provinsi Sumateara Barat,
Yth. Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Sum-bar-Riau,
Yth. Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional (BKSNT), Provinsi Sumatra Barat,
Yth. Para Bupati / Wali Kota Derah Tk. II dan Kepala Dinas Pariwi-sata Seni dan Budaya (Parsenibud) Kabupaten dan Kota se-Sumatera Barat.
Yth. Para Dekan dan Pembantu Dekan di Lingkungan Universitas Andalas,
Yth. Dekan Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta,
Yth. Dekan Fakultas Sastra Universitas Negri Padang,
Yth. Dekan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol,
Yth. Dekan, Para Pembantu Dekan (PD), seluruh anggota senat, dan staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Andalas,
Yth. Para Undangan dan hadirin seluruhnya,
Izinkan saya dalam acara yang penuh kebahagiaan ini terle-bih dahulu: memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, kare-na atas limpahan rahmat dan atas izinan-Nya-lah saya diperkenan-kan berdiri di sini saat ini; dan menghadiahkan salawat dan salam ke pada Nabi Muhammad SAW, manusia sempurna yang dengan ilmu dan hidayahnya telah merubah dunia kearah yang lebih baik.
Izinkan juga saya mengucapkan terima kasih kepada jajaran pimpinan Fakultas Sastra Universitas Andalas yang telah memberi-kan kesempatan kepada saya dalam orasi ilmiah ini untuk menyam-paikan beberapa pokok fikiran dalam rangka dies natalis Fakultas Sastra Universitas Andalas yang kita cintai ini.
Orasi ini diberi judul dengan “Pariwisata Budaya dan Arkeo-logi Pariwisata di Sumatera”, judul yang sangat luas tetapi di dalam-nya terselip opini yang sederhana sekali.
Hadirin yang saya muliakan,
Terlebih dahulu saya akan menguraikan selintas tentang kon-sep pariwisata dan hal-hal yang mengitarinya, agar kita memiliki pe-mahaman yang seragam dalam memahami uraian-uraian berikutnya.
Istilah pariwisata dapat disamakan artinya dengan istilah tourism di dalam bahasa Inggris, yang mempunyai hubungan dekat dengan istilah tour dan tuorist dalam bahasa yang sama: Tour adalah kata kerja yang berarti perjalanan, raun-raun, mengadakan turne, dan berpariwisata; tourist adalah subjek, orang yang melakukan ke-giatan tour; sedangkan tourism kata benda yang dapat diartikan se-bagai hal yang menyangkut kepariwisataan (Echols & Shadily 1976: 599). Berpijak pada pengertian ini kelihatan istilah tourism memi-liki cakupan yang sangat luas. Kepariwisataan dapat saja mengenai wisatawan, akomodasi, transportasi, objek wisata, pelaksana, penge-lola kepariwisataan, keamanan, bahkan konsepsi tentang kepariwisa-taan yang hendak dikembangkan dan lain-lain yang memiliki keter-kaitan dengan pariwisata tersebut. Karena begitu luasnya maka tidak memungkinkan bagi saya untuk mengupas masalah kepari-wisataan secara lengkap dalam waktu dan jumlah halaman yang ter-batas. Oleh sebab itu saya hanya menfokuskan untuk melihat bagian tertentunya saja, yaitu tentang sumber daya manusia yang melaksa-nakan dan mengelola kepariwisataan.
Sejauh ini, di Indonesia paling tidak telah dikembangkan tiga jenis pariwisata, yaitu pariwisata alam, priwisata konvensi, dan pari-wisata budaya. Pariwisata alam adalah pariwisata yang mengandal-kan keindahan alam, pariwisata konvensi adalah yang dipadukan de-ngan kegiatan-kegiatan konvensi seperti rapat-rapat, seminar, perte-muan-pertemuan baik yang bersifat nasional, regional, dan interna-sional, sedangkan wisata budaya lebih mengandalkan kepada kein-dahan budaya daerah setempat (Ave 1987), yang dapat saja menge-depankan 3 wujud kebudayaan yang ada di setiap daerah (wujud ma-terial, perilaku, dan ideal). Meskipun begitu, selain dari tiga jenis tersebut sebetulnya sudah dikembangkan juga bentuk agro-tourism yaitu suatu kegiatan periwisata yang mengandalkan dan menyuguh-kan tentang kegiatan pertanian, atau wisata bahari yang mengan-dalkan objek-objek wisata kelautan. Sesungguhnya saat ini semua jenis tersebut telah dijalankan di Indonesia.
Hadirin sekalian,
Sumatera adalah kawasan yang sangat potensial untuk pe-ngembangan semua jenis pariwisata itu, karena memiliki modal dasar yang memadai untuk hal tersebut. Alamnya bergunung-gu-nung dan berlembah-lembah, di sana-sini ada danau yang memiliki panorama yang indah menjadi daya pikat untuk dijadikan sebagai daerah wisata alam dan agro-tourism, sebutlah misalnya Gunung Leuser, Brastagi, Danau Toba, Bukittinggi dan Danau Maninjau, Danau Singkarak, danau Diateh dan Dibawah, Kayu Aro, Kerinci dan lain-lain. Kota-kotanya yang nyaman, unik dan khas dapat digu-nakan sebagai tempat dilaksanakan konvensi baik berskala nasional, regional, maupun internasional, seperti Kota Sabang, Banda Aceh, Medan, Toba, Bukittinggi, Padang, Pakan Baru, Jambi, Palembang, Bengkulu dan beberapa kota lain yang tak sempat disebutkan. Ma-sing-masingnya memiliki kekhasan tersediri. Selanjutnya, yang sa-ngat berharga adalah Sumatera memiliki kekayaan budaya yang be-lum begitu “terapungkan” sebagai objek wisata. Kawasan ini secara kulturil memiliki kesaragaman di samping keberagaman. Keseraga-man budaya Sumatera barangkali dapat ditelusuri dari latar belakang sejarah budaya Melayu yang sudah memasuki daerah ini semenjak pra-sejarah yang lalu, sehingga wajar saja kalau saat ini muncul istilah Melayu Aceh, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Minang (Padang), Melayu Jambi, Melayu Palembang, dan lain-lain, yang sesungguhnya di dalamnya tersirat suatu keseragaman (homogen) yang mampu menjadi elemen perekat antara satu dengan yang lain. Sebaliknya di dalam keseragaman itu ternyata masing-masing dae-rah memiliki keunikan tersendiri. Pendek kata, keindahan alam dan kebudayaan Sumatera adalah modal dasar yang sangat berharga un-tuk dijadikan sebagai objek wisata, saat ini dan akan datang.
Sehubungan dengan itu, khusus untuk wilayah Sumatera Ba-rat, tidak asing lagi bagi kita bahwa alam Minangkabau yang elok ini sudah dikenal oleh wisatawan di penjuru dunia, karena telah di-kunjungi oleh beberapa bangsa dari mancanegara. Tetapi sayangnya Sumatera Barat belum mampu mengoptimalkan diri sebagai kawa-san tujuan wisata. Berdasarkan data tahun 1986 kawasan ini hanya menduduki rangking ke 6 di Indonesia sebagi daerah tujuan wisata (Ave 1987). Perlu juga dicatat bahwa sampai tahun 1994, untuk wi-layah Sumatera, Sumatera Barat masih berada di bawah Sumatera Utara. Pada tahun 1994 Sumatera Utara dikunjungi oleh 206.599 wi-satawan mancanegara, sedangkan Sumatera Barat kurang dari sepa-ruhnya, hanya sebanyak 92.634 orang wisatawan (Sammeng 1996: 38-39).
Hadirin sekalian
Barangkali tak perlu dipungkiri pariwisata Indonesia, teruta-ma kawasan Sumatera (apalagi Sumatera Barat) dapat mengandal-kan sektor pariwisata budaya. Boleh jadi sektor ini dapat dikedepan-kan mengingat Sumatera kaya akan aneka kebudayaannya. Kekaya-an, keindahan dan kualitas budayanya menjadi modal utama untuk memikat wisatawan, sehingga bermuara meningkatnya kunjungan wisatawan ke daerah ini. Untuk mencapai semaksimal mungkin tuju-an tersebut diperlukan tenaga-tenaga yang mampu mengelola secara memadai kegiatan kepariwisataan tersebut, yang selama ini menjadi kendala tersendiri bagi kemajuan kepariwisataan di kawasan ini.
Hadiri yang saya muliakan,
Sebelum melanjutkan ke pembicaran berikutnya izinkanlah saya menceritakan secuil pengalaman saya berwisata budaya ke be-berapa tempat di Sumatera, yang mungkin dapat menggambarkan sedikit kondisi kepariwisataan di daerah ini saat ini.
Berapa kali saya melakukan perjalanan ke daerah-daerah wi-sata di Sumatera, baik sebagai seorang dosen pembimbing kuliah la-pangan, sebagai mahasiswa ataupun dalam kapasitas sebagai wisa-tawan domestik. Pada tahun 1996 saya bersama mahasiswa SKI-Fak. Adab IAIN Imam Bonjol ke Propinsi Aceh. Dalam perjalaan kami sempat singgah di Pulau Samosir, Danau Toba Sumatera Utara. Kemudian semejak akhir 1995 sampai 1998, hampir setiap ta-
hun saya bersama mahasiswa (kadang kala dari Jurusan Sejarah Fak. Sastra UNAND, dan kadang bersama mahasiswa SKI- Fak Adab IAIN) ke berbagai objek wisata Sumatera Barat, seperti di sekitar Padang, Pariaman, Tanah Datar dan Limapuluh Kota. Setidaknya saya telah mengunjungi sejumlah objek wisata (berupa peninggalan sejarah dan purbakala) di daerah-daerah itu. Dari pengalaman terse-but ada beberapa hal yang masih segar dalam ingatan. Di pulau Sa-mosir tepatnya di Tok-Tok kebetulan kami sempat mengunjungi su-atu objek wisata berupa beberapa hasil kebudayaan megalitis, salah satunya adalah kubur batu berbentuk konstruksi rumah adat tradi-sional Batak yang di bagian ujungnya terdapat patung manusia. Di sekitar kubur terdapat patung-patung lain seperti patung sapi dan be-berapa patung manusia, yang semuanya tersusun sedemikan rupa se-akan menggambarkan suatu prosesi ritual keagamaan dan menyirat-kan simbol tertentu. Sedangkan di Aceh sempat juga mengunjungi beberapa objek wisata peninggalan sejarah Islam, bekas peninggalan masa kerajaan Islam Samudera Pasai dan Aceh Darussalam berupa kubur, nisan-nisan yang penuh dengan bungong kalimah (kaligrafi Arab) . Di Limapuluh Kota dan Tanah Datar serta daerah sekitarnya saya telah mengunjungi beberapa peninggalan tradisi megalitik, pra-sasti-prasasti, bangunan-bangunan ibadah tradisional, dan beberapa makam-makam kuno Islam, yang umumnya berada di luar gedung (alam lepas). Di samping mengunjungi objek-objek wisata di luar gedung, kami juga mengunjung beberapa museum, yang di dalam-nya banyak di pajang benda-benda budaya.
Kunjungan-kunjungan seperti itu tetap berlanjut selang bebe-rapa tahun kemudian. Khususnya ke Propinsi Aceh kunjungan kepa-da sebagian objek yang sama berulang kembali pada tahun 2000, ketika melakukan penelitian untuk penulisan disertasi.
Tidak jauh berbeda dengan maksud di atas, saya juga telah menyaksikan beberapa objek wisata budaya di pulau Jawa, mulai da-ri Jawa Barat sampai ke daerah Jawa Timur. Meskipun ada kesan kondisi di pulau jawa agak lebih baik jika dibandingkan dengan di Sumatera namun secara esensial permasalahannya tidak jauh ber-beda.
Hadirin sekalian,
Beberapa pertanyaan telah dilontarkan oleh wisatawan kepa-da peramu wisata dan juru kunci (meminjam istilah yang dijumpai di pulau Jawa untuk orang-orang yang ditunjuk menjaga dan menjelas-kan hal-hal mengenai objek wisata tersebut). Sajauh itu peramu wi-sata dan juru kunci hanya mampu menjawab beberapa hal saja tanpa memuaskan. Hal senada juga dijumpai di setiap tempat, bahkan di sebagian besar tidak ditemukan orang-orang yang dapat memberikan keterangan meskipun secuil.
Yang sangat menyedihkan, umumnya museum-museum di kawasan Sumatera tidak memiliki koleksi yang memadai, sehingga kadang-kala tidak dapat diharapkan untuk mempelajari perkemba-ngan sejarah dan kebudayaan di derah tersebut. Di beberapa muse-um bahkan terkesan hanya menyuguhkan benda pajangan yang se-betulnya tidak layak dijadikan sebagi koleksi museum , sebab secara esensial koleksi museum tersebut adalah benda-benda yang dibuat pada suatu saat pada masa lalu, dan memiliki nilai kesejarahan. Di beberapa museum yang dijumpai malah sebaliknya, objeknya lebih banyak menyuguhkan benda-benda yang sungguhnya tidak memiliki nilai kesejarahan. Sehingga telah merubah hakekat dan fungsi se-sungguhnya museum itu sendiri.
Selanjutnya di beberapa tempat, beberapa objek wisata telah mengalami perubahan sangat menyolok, ada di antaranya yang ditata dan dibuat seindah mungkin tanpa memperhatikan keaslian benda-benda tersebut. Di Banda Aceh saya menemukan beberapa objek wi-sata yang telah diperbaiki, direhabilitasi, tetapi sangat merusak ter-hadap keorisionalan objek wisata, sehingga di antaranya sudah kehi-langan “greget” yang bernilai tinggi bagi penikmatnya. Di daerah ini saya menjumpai beberapa objek wisata yang telah mengalami keru-sakan karena salah urus, sebutlah misalnya makam-makam di Kan-dang XII dan Makam Keumalahayati. Beberapa jirat dan nisan di kompleks Kandang XII (Kompleks pemakaman 12 orang Sultan Ke-rajaan Aceh Darussalam) telah rusak karena diplaster dengan semen secara serampangan, dan nisan di makam Keumalahayati yang dicat sedemikian rupa sehingga menghilangkan beberapa hiasan dan in-skripsi bungong kalimah yang ada di makam tersebut. Salah urus ini juga dijumpai di beberapa objek wisata di Samosir. Konon kha-barnya beberapa benda-benda objek wisata tersebut sengaja dikum-pulkan, sehingga meskipun sebelumnya masih in situ kemudian se-ngaja dicopot dan dipindahkan ketempat yang diinginkan. Salah urus tersebut ternyata juga melanda Sumatera Barat. Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis telah didandani seindah mungkin, sehingga me-robah bentuk dan tekstur batu Malin Kundang. Begitu juga Rumah Kampai Nan Panjang di Balimbing (Tanah Datar) yang ternyata su-dah dilengkapi dengan wc (water close) yang sebetulnya secara tra-disional tidak pernah dijumpai di rumah gadang Minangkabau.
Hal demikian hanyalah secuil contoh yang menggambarkan betapa kepariwisataan dikelola dengan tidak baik. Persoalan seperti itu merupakan potret kondisi pariwisata di kawasan yang dikunjungi, dan barangkali tidak jauh berbeda kondisinya di hampir seluruh pelosok Indonesia.
Hadirin sekalian,
Di sisi lain, seiring dengan perkembangan politik secara na-sional telah terjadi perubahan dahsyat di dalam kebijakan pengelo-laan kepariwisataan di Indonesia. Seiring dengan otonomi yang di-serahkan kepada daerah Kabupaten dan Kota, maka setiap Kabupa-ten dan Kota akan mengelola kepariwisataan secara otonom. Hal de-mikian jelas akan terjadi “balapan”, saling berlomba antara Kabupa-ten dan Kota untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelaya-nan terhadap objek-objek wisata yang sudah ada, dan berusaha membuat, mendisain, menata, dan menciptakan objek-objek wisata yang baru.
Hal seperti itu, akan memunculkan kondisi yang benar-benar sangat riskan. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi apabila ke-pariwisataan di tingkat Kabupaten dan Kota telah dikelola oleh orang-orang yang sebetulnya memiliki kendala wawasan kepariwi-sataan, kurangnya jam terbang (mengingat juga selama ini proyek pariwisata sering dikelola langsung dari tingkat Propinsi), dan hanya berorientasi proyek dalam mengolah dan mengelola dunia pariwi-sata, apalagi yang sangat penting, tidak faham dengan masalah tek-nis-metodologis yang memenuhi standar keilmiahan. Kondisi seperti itu akan menghancurkan terhadap objek wisata, yang justru lebih ba-ik dibiarkan begitu saja dari pada diasak-usik oleh orang yang tidak mengerti dengan pekerjaan mereka. Dapat diperkirakan pariwisata Indonesia masa datang akan mengalami salah kaprah dan merusak secara lambat laun terhadap objek wisata.
Oleh sebab itu pada gilirannya, setiap Kabupaten dan Kota harus menyediakan “praktisi”, pegawai yang mampu menjadikan Kabupaten dan Kota mereka menjadi daerah tujuan wisata, sekaligus memiliki wawasan tentang kepariwisataan yang tepat guna tanpa merusak kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar dari pa-riwisata tersebut.
Hadirin sekalian,
Apa yang terjadi pada makam-makam di Kandang XII Banda Aceh yang telah diplasteri dengan semen, Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis Padang yang telah diparancak dan Rumah Gadang Kampai Nan Panjang di Kabupaten Tanah Datar yang telah dileng-kapi dengan wc di pekarangannya adalah contoh yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi yang dikuatirkan tadi. Di dalam hal tersebut paling tidak telah terjadi perubahan-perubahan bentuk yang sangat merusak terhadap informasi budaya yang terendap pada objek tersebut. Kasus pada makam-makam Kandang XII yang kehilangan beberapa bungong kalimah telah mengurangi keindahan aslinya, dan kehilangan beberapa informasi budaya yang sebetulnya sangat ber-harga bagi wisatawan dan dunia keilmiahan. Batu Malin Kundang yang telah diparancak telah membodohi pengunjung karena yang di-lihatnya bukan lagi benda yang sesungguhnya. Rumah Kampai Nan Panjang yang telah dilengkapi dengan wc, meskipun untuk alasan apapun, telah memberikan gambaran dan informasi yang keliru ke-pada wisatawan yang mengunjunginya, sebab secara tradisional tak satupun rumah gadang yang memiliki wc di sekitar rumah gadang.
Hadirin sekalian yang dimuliakan,
Dari sudut wisatawan paling tidak ada dua fungsi pariwisata yaitu fungsi rekreasi dan edukasi. Fungsi rekreasi menimbulkan rasa kesenangan, kekaguman, kenikmatan bagi wisatawan yang pada gili-rannya menimbulkan dampak pelenturan otot, saraf dan anggota tu-buh. Sedangkan fungsi edukasi akan memberikan pengetahuan-pe-ngetahuan yang selanjutnya bermuara memperluas wawasan wisa-tawan khususnya tentang objek-objek yang dikunjungi. Oleh sebab itu di dalam kegiatannya berpariwisata, wisatawan selalu mengaju-kan pertanyaan-pertanyaan kepada peramu wisata, atau ke pada siapapun yang ada.
Dalam wisata budaya, wisatawan akan berhadapan dengan benda-benda budaya (bukan berarti melupakan budaya selain benda) dan sering pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mereka tentang sejarah, fungsi, kegunaan dan hubungan benda budaya dengan ma-syarakat masa lalu dan sekarang. Pertanyaan-pertanyaan mereka pa-ling tidak mempunyai 3 tiga dimensi yaitu: pertama berdimensi wak-tu (time) seperti, kapan benda itu dibuat, kapan direnovasi, dihancur-kan, dan lain-lain; kedua berdimesi bentuk (form) seperti, bagaima-nakah bentuk benda budaya dan kenapa demikian, kenapa kuburan berbentuk rumah adat tradisional Batak, kenapa batu Malin Kundang mirip kapal: ketiga berdimensi ruang (space) seperti, apakah benda tersebut sudah berada di tempat itu semenjak awal ditemukan, atau apa-kah sudah terjadi pemindahan lokasi, apakah masih ada benda sejenisnya di kawasan lain, atau sampai ke daerah mana persebaran dan distribusi benda budaya tersebut, dan lain-lain sebagainya.
Sebetulnya pertanyaan-pertanyaan di atas tidak jauh berbeda dengan pertanyaaan-pertanyaan yang diapungkan oleh para arkeolog dalam kajian-kajian mereka tentang kebudayaan. Oleh sebab itu per-tanyaan-pertanyaan wisatawan merupakan pertanyaan bernuansa ar-keologis. Dengan demikian kalau wisatawan mengajukan pertanyaan seperti itu maka para peramu wisata harusnya menjawab sebagimana arkeolog mendeskripsikan dan merekonsruksi sejarah kebudayaan. Oleh sebab itu, peramu wisata tersebut harus juga memiliki wawa-san dan pengetahuan tentang kearkeologisan. Dengan demikian juga, pariwisata budaya sangat membutuhkan peramu-peramu wisata yang memiliki wawasan dan cara berfikir arkeolog, paling tidak mereka mempunyai dasar-dasar logika berfikir arkeologis. Barangkali meru-pakan hal yang wajar saja kalau selama ini wisatawan menemui ken-dala di lapangan dan pulang tanpa memuaskan, karena terkesan pe-ramu-peramu wisata yang ada hanya bermodalkan pengetahuan sea-danya, terkesan sebatas pelepas hutang, tanpa wawasan yang cukup mengenai objek wisata tersebut. Mereka muncul begitu saja, tanpa kriteria yang jelas.
Hadirin sekalian,
Barangkali bukan merupakan hal yang mengada-ada jika su-dah seharusnya memikirkan untuk memperbanyak lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan kurikulum tentang arkeologi pariwi-sata, semacam Ilmu yang memadukan antara arekologi dan pariwisa-ta, yang diarahkan untuk mendukung kepentingan pariwisata, yang mengajarkan tentang hakekat benda budaya, sebagai benda arkeolo-gis dan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus dijaga, sekali-gus sebagai objek wisata.
Hadirin yang saya hormati,
Sebelum bicara lebih jauh tentang arkeologi pariwisata ada baiknya terlebih dahulu dijelaskan secara sepintas apa itu arkeologi.
Arkeologi berasal dari istilah Yunani, dari kata archaeos yang berarti kuna dan logos yang berarti ilmu. Secara bebas dapat dikatakan arkeologi adalah ilmu tentang kekunoan, yang pada masa lalu disebut ilmu purbakala, tetapi pada tataran atmosfer akademis Indonesia saat ini, justru lebih populer dengan arkeologi saja.
Joukowsky (1980) menyatakan arkeologi adalah ilmu penge-tahuan yang bergelut dengan tinggalan budaya masa lalu yang dila-kukan secara sistematis dan metodologis untuk mempelajari dan me-rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu selengkap mungkin. Untuk mempelajari masa lalu tersebut, arkeologi sangat mengandal-kan kepada tinggalan material budayanya, karena ada anggapan bah-wa tinggalan budaya tersebut merupakan fosilized behavior (fosi-lisasi dari prilaku) manusia pendukungnya. Oleh sebab itu, seseder-hana apapun, sekecil apapun benda budaya adalah refleksi dari bu-dayanya, berisikan endapan-endapan budaya masa lalu tersebut, dan sangat fungsional untuk mengkaji manusia pembuatnya, pemakai (pendukung) budaya tersebut.
Sehubungan dengan itu, oleh sebab itu arkeologi sangat tabu sekali untuk memindahkan, merubah bentuk dan ukuran benda pur-bakala, karena tempat ditemukan, bentuk dan ukuran benda tersebut adalah refleksi dari budaya pendukungnya. Di dalamnya terendap cara dan tempat pembuatan, pemakaian, dan pembuangan benda tersebut.
Clark (1960) memberikan definisi bahwa arkeologi adalah sebuah disiplin ilmu yang berusaha mengungkapkan, mengkaji dan menganalisa kekunoan secara sistematis. Baik Joukowsky maupun Taylor sama-sama menekankan bahwa arkeologi pada intinya meru-pakan ilmu yang berusaha untuk mengungkapkan kebudayaan ma-nusia. Dalam tataran ini agaknya mirip dengan ilmu sejarah dan an-tropologi budaya yang sama-sama berusaha mengungkapkan kebu-dayaan manusia. Oleh sebab itu berkemungkinan ada yang menya-takan arkeologi berebut lahan dengan ilmu sejarah dan antropologi. Pada bagian tertentu memang arkeologi agak mirip dengan ilmu se-jarah yang sama-sama mendalami masa lalu manusia, dan sepertinya juga identik dengan antropologi budaya karena juga sama-sama me-ngungkapkan tentang budaya manusia. Pada hal kalau diperhatikan lebih jauh terdapat perbedaan yang menyolok. Dari pernyataan Jou-kowsky jelas bahwa arkeologi lebih menekankan, dan lebih banyak bergelut dengan tinggalan budaya (material) dalam merekonstruksi kebudayaan manusia pada masa lalu tersebut. Untuk keperluan itu arkeologi telah mengembangkan metode khusus yang membeda-kannya dengan ilmu sejarah dan antropologi.
Seperti yang dikemukakan Taylor (1971) bahwa arkeologi adalah suatu disiplin ilmu yang mengembangkan teknik-teknik khu-sus (seperti ekskavasi) untuk mengumpulkan dan menghasilkan in-formasi-informasi budaya. Dalam arkeologi pada intinya berusaha memperoleh benda-benda budaya, mengkonservasi (memelihara dan melestarikan), merehabilitasi (memugar), masa lalu yang nantinya dipergunakan untuk mengungkapkan budaya masa lalu tersebut.
Sejarah munculnya arkeologi sangat erat hubungannya de-ngan kegiatan peminat benda-benda seni (art collectors) di Eropah pada abad ke-17 M. Pada masa itu para peminat seni begitu bernafsu mengumpulkan benda-benda seni, karena ada anggapan semakin ba-nyak koleksi benda seni yang dikumpulkan akan menambah kesena-ngan hidup, ketenaran, bahkan meningkatkan status sosial mereka. Oleh sebab itu art collectors bersedia menyediakan dana untuk me-ngumpulkan benda-benda seni, baik yang berasal dari Eropah sendiri maupun dari wilayah di luarnya, seperti Afrika, Amerika Selatan, dan terutama yang berasal dari Asia Barat, Asia Selatan, Cina, dan wilayah Asia lainnya. Kegiatan itu bahkan dilakukan dalam skala yang besar, sehingga yang muncul adalah penjarahan terhadap ben-da-benda seni tersebut, dan perusakan situs-situs purbakala karena telah dilakukan penggalian-penggalian secara serampangan.
Benda-benda yang diperoleh kemudian mereka pajang di ga-leri-galeri seni, dan bahkan di museum-museum pribadi mereka. Benda-benda yang dipajang tersebut pada awalnya diberi sedikit ke-terangan seperti: wilayah asal tempat ditemukan, bahan, perkiraan umur, dan lain-lain. Pada perkembangannya, akibat tuntutan dari be-berapa art collectors, pengunjung galeri dan museum, kemudian muncul keinginan untuk memberikan keterangan yang memadai tentang benda-benda seni tersebut. Maka, pada abad ke-19 muncul-lah niat dari mereka untuk mengembangkan suatu sistem dan metode ilmiah dalam mencari dan mengumpulkan benda-benda itu. Dapat dikatakan pada abad ke-19 arkeologi sebagai ilmu telah dirintis dan dirancang. Semenjak itu kemudian bermunculanlah para arkeolog yang profesional di bidangnya.
Dapat dikatakan sejarah munculnya arkeologi tidak bisa dile-paskan dari unsur tourism, karena dipersembahkan untuk museum dan galeri seni yang tak lain adalah untuk kepentingan pariwisata. Bahkan sampai saat ini, sebagian hasil-hasil kegiatan arkeolog masih diperuntukan guna memenuhi museum-museum.
Hadirin sekalian,
Di Indonesia telah berdiri beberapa jurusan dan program studi arkeologi seperti: Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu-Ilmu Bu-daya Universitas Indonesia; Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada; Program Studi Arkeologi di Ju-rusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanudin Ujung Pan-dang; dan Jurusan Arkeologi di Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya Univer-sitas Udayana Bali. Dari empat universitas tersebut, Jurusan Arkeo-logi di Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Gajah Mada, dan Program studi Arkeologi di Fakultas Satra Universitas Hasanudin menekankan terhadap arkeologi murni, hanya program studi arkeologi di Universitas Udayana Bali yang mengkhususkan tentang Arkeologi Pariwisata. Di sisi lain di beberapa kota di Indo-nesia telah berdiri dan bermunculan Perguruan Tinggi Swasta yang bidang keilmuannya khusus tentang Pariwisata yang hampir dipasti-kan belum lagi menyediakan sebuah jurusan dan program studi atau setidaknya sebuah mata kuliah Arkeologi Pariwisata.
Khusus untuk daerah Sumatera, terutama Sumatera Barat sungguh ironis dan ganjil kalau suatu kawasan yang kaya akan te-muan benda purbakala, atau benda arkelogis, dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata budaya tak satupun dijumpai lembaga pendidikan yang menawarkan dan mengajarkan arkeologi pariwisata. Barangkali merupakan suatu yang sangat mendesak, me-ngingat perkembangan arah otonomi daerah yang menekankan kepa-da Kabupaten dan Kota, sehingga akan banyak membutuhkan “prak-tisi” (pegawai) yang mampu mendisain dan “menyulap” daerahnya menjadi tujuan wisata.
Dalam kesempatan ini tidak salah kiranya kalau saya mengu-sulkan agar salah satu perguruan tinggi di Sumatera Barat dapat menjadi pemula (frontir) di Sumatera untuk mendirikan sebuah lembaga studi yang benar-benar mengajarkan dan mengembangkan tentang arkeologi pariwisata.
Ada hal yang sangat penting dalam hal ini, yaitu dengan ada-nya jurusan / program studi arkeologi pariwisata, maka program itu dapat menjadi motor penggerak untuk kajian-kajian budaya dan pa-riwisata untuk kawasan Sumatera, yang selama ini dapat dikatakan tertinggal.
http://herwandi-wendy.blogspot.com/2008/04/pariwisata-budaya-orasi-ilmiah_21.html
Oleh: DR. Herwandi, M. Hum
Yth. Rektor / Ketua Senat, dan para Pembantu Rektor Universitas Andalas,
Yth. Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenibud) Provin-si Sumatera Barat,
Yth. Kepala Museum Adityawarman, Provinsi Sumateara Barat,
Yth. Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Sum-bar-Riau,
Yth. Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional (BKSNT), Provinsi Sumatra Barat,
Yth. Para Bupati / Wali Kota Derah Tk. II dan Kepala Dinas Pariwi-sata Seni dan Budaya (Parsenibud) Kabupaten dan Kota se-Sumatera Barat.
Yth. Para Dekan dan Pembantu Dekan di Lingkungan Universitas Andalas,
Yth. Dekan Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta,
Yth. Dekan Fakultas Sastra Universitas Negri Padang,
Yth. Dekan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol,
Yth. Dekan, Para Pembantu Dekan (PD), seluruh anggota senat, dan staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Andalas,
Yth. Para Undangan dan hadirin seluruhnya,
Izinkan saya dalam acara yang penuh kebahagiaan ini terle-bih dahulu: memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, kare-na atas limpahan rahmat dan atas izinan-Nya-lah saya diperkenan-kan berdiri di sini saat ini; dan menghadiahkan salawat dan salam ke pada Nabi Muhammad SAW, manusia sempurna yang dengan ilmu dan hidayahnya telah merubah dunia kearah yang lebih baik.
Izinkan juga saya mengucapkan terima kasih kepada jajaran pimpinan Fakultas Sastra Universitas Andalas yang telah memberi-kan kesempatan kepada saya dalam orasi ilmiah ini untuk menyam-paikan beberapa pokok fikiran dalam rangka dies natalis Fakultas Sastra Universitas Andalas yang kita cintai ini.
Orasi ini diberi judul dengan “Pariwisata Budaya dan Arkeo-logi Pariwisata di Sumatera”, judul yang sangat luas tetapi di dalam-nya terselip opini yang sederhana sekali.
Hadirin yang saya muliakan,
Terlebih dahulu saya akan menguraikan selintas tentang kon-sep pariwisata dan hal-hal yang mengitarinya, agar kita memiliki pe-mahaman yang seragam dalam memahami uraian-uraian berikutnya.
Istilah pariwisata dapat disamakan artinya dengan istilah tourism di dalam bahasa Inggris, yang mempunyai hubungan dekat dengan istilah tour dan tuorist dalam bahasa yang sama: Tour adalah kata kerja yang berarti perjalanan, raun-raun, mengadakan turne, dan berpariwisata; tourist adalah subjek, orang yang melakukan ke-giatan tour; sedangkan tourism kata benda yang dapat diartikan se-bagai hal yang menyangkut kepariwisataan (Echols & Shadily 1976: 599). Berpijak pada pengertian ini kelihatan istilah tourism memi-liki cakupan yang sangat luas. Kepariwisataan dapat saja mengenai wisatawan, akomodasi, transportasi, objek wisata, pelaksana, penge-lola kepariwisataan, keamanan, bahkan konsepsi tentang kepariwisa-taan yang hendak dikembangkan dan lain-lain yang memiliki keter-kaitan dengan pariwisata tersebut. Karena begitu luasnya maka tidak memungkinkan bagi saya untuk mengupas masalah kepari-wisataan secara lengkap dalam waktu dan jumlah halaman yang ter-batas. Oleh sebab itu saya hanya menfokuskan untuk melihat bagian tertentunya saja, yaitu tentang sumber daya manusia yang melaksa-nakan dan mengelola kepariwisataan.
Sejauh ini, di Indonesia paling tidak telah dikembangkan tiga jenis pariwisata, yaitu pariwisata alam, priwisata konvensi, dan pari-wisata budaya. Pariwisata alam adalah pariwisata yang mengandal-kan keindahan alam, pariwisata konvensi adalah yang dipadukan de-ngan kegiatan-kegiatan konvensi seperti rapat-rapat, seminar, perte-muan-pertemuan baik yang bersifat nasional, regional, dan interna-sional, sedangkan wisata budaya lebih mengandalkan kepada kein-dahan budaya daerah setempat (Ave 1987), yang dapat saja menge-depankan 3 wujud kebudayaan yang ada di setiap daerah (wujud ma-terial, perilaku, dan ideal). Meskipun begitu, selain dari tiga jenis tersebut sebetulnya sudah dikembangkan juga bentuk agro-tourism yaitu suatu kegiatan periwisata yang mengandalkan dan menyuguh-kan tentang kegiatan pertanian, atau wisata bahari yang mengan-dalkan objek-objek wisata kelautan. Sesungguhnya saat ini semua jenis tersebut telah dijalankan di Indonesia.
Hadirin sekalian,
Sumatera adalah kawasan yang sangat potensial untuk pe-ngembangan semua jenis pariwisata itu, karena memiliki modal dasar yang memadai untuk hal tersebut. Alamnya bergunung-gu-nung dan berlembah-lembah, di sana-sini ada danau yang memiliki panorama yang indah menjadi daya pikat untuk dijadikan sebagai daerah wisata alam dan agro-tourism, sebutlah misalnya Gunung Leuser, Brastagi, Danau Toba, Bukittinggi dan Danau Maninjau, Danau Singkarak, danau Diateh dan Dibawah, Kayu Aro, Kerinci dan lain-lain. Kota-kotanya yang nyaman, unik dan khas dapat digu-nakan sebagai tempat dilaksanakan konvensi baik berskala nasional, regional, maupun internasional, seperti Kota Sabang, Banda Aceh, Medan, Toba, Bukittinggi, Padang, Pakan Baru, Jambi, Palembang, Bengkulu dan beberapa kota lain yang tak sempat disebutkan. Ma-sing-masingnya memiliki kekhasan tersediri. Selanjutnya, yang sa-ngat berharga adalah Sumatera memiliki kekayaan budaya yang be-lum begitu “terapungkan” sebagai objek wisata. Kawasan ini secara kulturil memiliki kesaragaman di samping keberagaman. Keseraga-man budaya Sumatera barangkali dapat ditelusuri dari latar belakang sejarah budaya Melayu yang sudah memasuki daerah ini semenjak pra-sejarah yang lalu, sehingga wajar saja kalau saat ini muncul istilah Melayu Aceh, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Minang (Padang), Melayu Jambi, Melayu Palembang, dan lain-lain, yang sesungguhnya di dalamnya tersirat suatu keseragaman (homogen) yang mampu menjadi elemen perekat antara satu dengan yang lain. Sebaliknya di dalam keseragaman itu ternyata masing-masing dae-rah memiliki keunikan tersendiri. Pendek kata, keindahan alam dan kebudayaan Sumatera adalah modal dasar yang sangat berharga un-tuk dijadikan sebagai objek wisata, saat ini dan akan datang.
Sehubungan dengan itu, khusus untuk wilayah Sumatera Ba-rat, tidak asing lagi bagi kita bahwa alam Minangkabau yang elok ini sudah dikenal oleh wisatawan di penjuru dunia, karena telah di-kunjungi oleh beberapa bangsa dari mancanegara. Tetapi sayangnya Sumatera Barat belum mampu mengoptimalkan diri sebagai kawa-san tujuan wisata. Berdasarkan data tahun 1986 kawasan ini hanya menduduki rangking ke 6 di Indonesia sebagi daerah tujuan wisata (Ave 1987). Perlu juga dicatat bahwa sampai tahun 1994, untuk wi-layah Sumatera, Sumatera Barat masih berada di bawah Sumatera Utara. Pada tahun 1994 Sumatera Utara dikunjungi oleh 206.599 wi-satawan mancanegara, sedangkan Sumatera Barat kurang dari sepa-ruhnya, hanya sebanyak 92.634 orang wisatawan (Sammeng 1996: 38-39).
Hadirin sekalian
Barangkali tak perlu dipungkiri pariwisata Indonesia, teruta-ma kawasan Sumatera (apalagi Sumatera Barat) dapat mengandal-kan sektor pariwisata budaya. Boleh jadi sektor ini dapat dikedepan-kan mengingat Sumatera kaya akan aneka kebudayaannya. Kekaya-an, keindahan dan kualitas budayanya menjadi modal utama untuk memikat wisatawan, sehingga bermuara meningkatnya kunjungan wisatawan ke daerah ini. Untuk mencapai semaksimal mungkin tuju-an tersebut diperlukan tenaga-tenaga yang mampu mengelola secara memadai kegiatan kepariwisataan tersebut, yang selama ini menjadi kendala tersendiri bagi kemajuan kepariwisataan di kawasan ini.
Hadiri yang saya muliakan,
Sebelum melanjutkan ke pembicaran berikutnya izinkanlah saya menceritakan secuil pengalaman saya berwisata budaya ke be-berapa tempat di Sumatera, yang mungkin dapat menggambarkan sedikit kondisi kepariwisataan di daerah ini saat ini.
Berapa kali saya melakukan perjalanan ke daerah-daerah wi-sata di Sumatera, baik sebagai seorang dosen pembimbing kuliah la-pangan, sebagai mahasiswa ataupun dalam kapasitas sebagai wisa-tawan domestik. Pada tahun 1996 saya bersama mahasiswa SKI-Fak. Adab IAIN Imam Bonjol ke Propinsi Aceh. Dalam perjalaan kami sempat singgah di Pulau Samosir, Danau Toba Sumatera Utara. Kemudian semejak akhir 1995 sampai 1998, hampir setiap ta-
hun saya bersama mahasiswa (kadang kala dari Jurusan Sejarah Fak. Sastra UNAND, dan kadang bersama mahasiswa SKI- Fak Adab IAIN) ke berbagai objek wisata Sumatera Barat, seperti di sekitar Padang, Pariaman, Tanah Datar dan Limapuluh Kota. Setidaknya saya telah mengunjungi sejumlah objek wisata (berupa peninggalan sejarah dan purbakala) di daerah-daerah itu. Dari pengalaman terse-but ada beberapa hal yang masih segar dalam ingatan. Di pulau Sa-mosir tepatnya di Tok-Tok kebetulan kami sempat mengunjungi su-atu objek wisata berupa beberapa hasil kebudayaan megalitis, salah satunya adalah kubur batu berbentuk konstruksi rumah adat tradi-sional Batak yang di bagian ujungnya terdapat patung manusia. Di sekitar kubur terdapat patung-patung lain seperti patung sapi dan be-berapa patung manusia, yang semuanya tersusun sedemikan rupa se-akan menggambarkan suatu prosesi ritual keagamaan dan menyirat-kan simbol tertentu. Sedangkan di Aceh sempat juga mengunjungi beberapa objek wisata peninggalan sejarah Islam, bekas peninggalan masa kerajaan Islam Samudera Pasai dan Aceh Darussalam berupa kubur, nisan-nisan yang penuh dengan bungong kalimah (kaligrafi Arab) . Di Limapuluh Kota dan Tanah Datar serta daerah sekitarnya saya telah mengunjungi beberapa peninggalan tradisi megalitik, pra-sasti-prasasti, bangunan-bangunan ibadah tradisional, dan beberapa makam-makam kuno Islam, yang umumnya berada di luar gedung (alam lepas). Di samping mengunjungi objek-objek wisata di luar gedung, kami juga mengunjung beberapa museum, yang di dalam-nya banyak di pajang benda-benda budaya.
Kunjungan-kunjungan seperti itu tetap berlanjut selang bebe-rapa tahun kemudian. Khususnya ke Propinsi Aceh kunjungan kepa-da sebagian objek yang sama berulang kembali pada tahun 2000, ketika melakukan penelitian untuk penulisan disertasi.
Tidak jauh berbeda dengan maksud di atas, saya juga telah menyaksikan beberapa objek wisata budaya di pulau Jawa, mulai da-ri Jawa Barat sampai ke daerah Jawa Timur. Meskipun ada kesan kondisi di pulau jawa agak lebih baik jika dibandingkan dengan di Sumatera namun secara esensial permasalahannya tidak jauh ber-beda.
Hadirin sekalian,
Beberapa pertanyaan telah dilontarkan oleh wisatawan kepa-da peramu wisata dan juru kunci (meminjam istilah yang dijumpai di pulau Jawa untuk orang-orang yang ditunjuk menjaga dan menjelas-kan hal-hal mengenai objek wisata tersebut). Sajauh itu peramu wi-sata dan juru kunci hanya mampu menjawab beberapa hal saja tanpa memuaskan. Hal senada juga dijumpai di setiap tempat, bahkan di sebagian besar tidak ditemukan orang-orang yang dapat memberikan keterangan meskipun secuil.
Yang sangat menyedihkan, umumnya museum-museum di kawasan Sumatera tidak memiliki koleksi yang memadai, sehingga kadang-kala tidak dapat diharapkan untuk mempelajari perkemba-ngan sejarah dan kebudayaan di derah tersebut. Di beberapa muse-um bahkan terkesan hanya menyuguhkan benda pajangan yang se-betulnya tidak layak dijadikan sebagi koleksi museum , sebab secara esensial koleksi museum tersebut adalah benda-benda yang dibuat pada suatu saat pada masa lalu, dan memiliki nilai kesejarahan. Di beberapa museum yang dijumpai malah sebaliknya, objeknya lebih banyak menyuguhkan benda-benda yang sungguhnya tidak memiliki nilai kesejarahan. Sehingga telah merubah hakekat dan fungsi se-sungguhnya museum itu sendiri.
Selanjutnya di beberapa tempat, beberapa objek wisata telah mengalami perubahan sangat menyolok, ada di antaranya yang ditata dan dibuat seindah mungkin tanpa memperhatikan keaslian benda-benda tersebut. Di Banda Aceh saya menemukan beberapa objek wi-sata yang telah diperbaiki, direhabilitasi, tetapi sangat merusak ter-hadap keorisionalan objek wisata, sehingga di antaranya sudah kehi-langan “greget” yang bernilai tinggi bagi penikmatnya. Di daerah ini saya menjumpai beberapa objek wisata yang telah mengalami keru-sakan karena salah urus, sebutlah misalnya makam-makam di Kan-dang XII dan Makam Keumalahayati. Beberapa jirat dan nisan di kompleks Kandang XII (Kompleks pemakaman 12 orang Sultan Ke-rajaan Aceh Darussalam) telah rusak karena diplaster dengan semen secara serampangan, dan nisan di makam Keumalahayati yang dicat sedemikian rupa sehingga menghilangkan beberapa hiasan dan in-skripsi bungong kalimah yang ada di makam tersebut. Salah urus ini juga dijumpai di beberapa objek wisata di Samosir. Konon kha-barnya beberapa benda-benda objek wisata tersebut sengaja dikum-pulkan, sehingga meskipun sebelumnya masih in situ kemudian se-ngaja dicopot dan dipindahkan ketempat yang diinginkan. Salah urus tersebut ternyata juga melanda Sumatera Barat. Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis telah didandani seindah mungkin, sehingga me-robah bentuk dan tekstur batu Malin Kundang. Begitu juga Rumah Kampai Nan Panjang di Balimbing (Tanah Datar) yang ternyata su-dah dilengkapi dengan wc (water close) yang sebetulnya secara tra-disional tidak pernah dijumpai di rumah gadang Minangkabau.
Hal demikian hanyalah secuil contoh yang menggambarkan betapa kepariwisataan dikelola dengan tidak baik. Persoalan seperti itu merupakan potret kondisi pariwisata di kawasan yang dikunjungi, dan barangkali tidak jauh berbeda kondisinya di hampir seluruh pelosok Indonesia.
Hadirin sekalian,
Di sisi lain, seiring dengan perkembangan politik secara na-sional telah terjadi perubahan dahsyat di dalam kebijakan pengelo-laan kepariwisataan di Indonesia. Seiring dengan otonomi yang di-serahkan kepada daerah Kabupaten dan Kota, maka setiap Kabupa-ten dan Kota akan mengelola kepariwisataan secara otonom. Hal de-mikian jelas akan terjadi “balapan”, saling berlomba antara Kabupa-ten dan Kota untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelaya-nan terhadap objek-objek wisata yang sudah ada, dan berusaha membuat, mendisain, menata, dan menciptakan objek-objek wisata yang baru.
Hal seperti itu, akan memunculkan kondisi yang benar-benar sangat riskan. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi apabila ke-pariwisataan di tingkat Kabupaten dan Kota telah dikelola oleh orang-orang yang sebetulnya memiliki kendala wawasan kepariwi-sataan, kurangnya jam terbang (mengingat juga selama ini proyek pariwisata sering dikelola langsung dari tingkat Propinsi), dan hanya berorientasi proyek dalam mengolah dan mengelola dunia pariwi-sata, apalagi yang sangat penting, tidak faham dengan masalah tek-nis-metodologis yang memenuhi standar keilmiahan. Kondisi seperti itu akan menghancurkan terhadap objek wisata, yang justru lebih ba-ik dibiarkan begitu saja dari pada diasak-usik oleh orang yang tidak mengerti dengan pekerjaan mereka. Dapat diperkirakan pariwisata Indonesia masa datang akan mengalami salah kaprah dan merusak secara lambat laun terhadap objek wisata.
Oleh sebab itu pada gilirannya, setiap Kabupaten dan Kota harus menyediakan “praktisi”, pegawai yang mampu menjadikan Kabupaten dan Kota mereka menjadi daerah tujuan wisata, sekaligus memiliki wawasan tentang kepariwisataan yang tepat guna tanpa merusak kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar dari pa-riwisata tersebut.
Hadirin sekalian,
Apa yang terjadi pada makam-makam di Kandang XII Banda Aceh yang telah diplasteri dengan semen, Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis Padang yang telah diparancak dan Rumah Gadang Kampai Nan Panjang di Kabupaten Tanah Datar yang telah dileng-kapi dengan wc di pekarangannya adalah contoh yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi yang dikuatirkan tadi. Di dalam hal tersebut paling tidak telah terjadi perubahan-perubahan bentuk yang sangat merusak terhadap informasi budaya yang terendap pada objek tersebut. Kasus pada makam-makam Kandang XII yang kehilangan beberapa bungong kalimah telah mengurangi keindahan aslinya, dan kehilangan beberapa informasi budaya yang sebetulnya sangat ber-harga bagi wisatawan dan dunia keilmiahan. Batu Malin Kundang yang telah diparancak telah membodohi pengunjung karena yang di-lihatnya bukan lagi benda yang sesungguhnya. Rumah Kampai Nan Panjang yang telah dilengkapi dengan wc, meskipun untuk alasan apapun, telah memberikan gambaran dan informasi yang keliru ke-pada wisatawan yang mengunjunginya, sebab secara tradisional tak satupun rumah gadang yang memiliki wc di sekitar rumah gadang.
Hadirin sekalian yang dimuliakan,
Dari sudut wisatawan paling tidak ada dua fungsi pariwisata yaitu fungsi rekreasi dan edukasi. Fungsi rekreasi menimbulkan rasa kesenangan, kekaguman, kenikmatan bagi wisatawan yang pada gili-rannya menimbulkan dampak pelenturan otot, saraf dan anggota tu-buh. Sedangkan fungsi edukasi akan memberikan pengetahuan-pe-ngetahuan yang selanjutnya bermuara memperluas wawasan wisa-tawan khususnya tentang objek-objek yang dikunjungi. Oleh sebab itu di dalam kegiatannya berpariwisata, wisatawan selalu mengaju-kan pertanyaan-pertanyaan kepada peramu wisata, atau ke pada siapapun yang ada.
Dalam wisata budaya, wisatawan akan berhadapan dengan benda-benda budaya (bukan berarti melupakan budaya selain benda) dan sering pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mereka tentang sejarah, fungsi, kegunaan dan hubungan benda budaya dengan ma-syarakat masa lalu dan sekarang. Pertanyaan-pertanyaan mereka pa-ling tidak mempunyai 3 tiga dimensi yaitu: pertama berdimensi wak-tu (time) seperti, kapan benda itu dibuat, kapan direnovasi, dihancur-kan, dan lain-lain; kedua berdimesi bentuk (form) seperti, bagaima-nakah bentuk benda budaya dan kenapa demikian, kenapa kuburan berbentuk rumah adat tradisional Batak, kenapa batu Malin Kundang mirip kapal: ketiga berdimensi ruang (space) seperti, apakah benda tersebut sudah berada di tempat itu semenjak awal ditemukan, atau apa-kah sudah terjadi pemindahan lokasi, apakah masih ada benda sejenisnya di kawasan lain, atau sampai ke daerah mana persebaran dan distribusi benda budaya tersebut, dan lain-lain sebagainya.
Sebetulnya pertanyaan-pertanyaan di atas tidak jauh berbeda dengan pertanyaaan-pertanyaan yang diapungkan oleh para arkeolog dalam kajian-kajian mereka tentang kebudayaan. Oleh sebab itu per-tanyaan-pertanyaan wisatawan merupakan pertanyaan bernuansa ar-keologis. Dengan demikian kalau wisatawan mengajukan pertanyaan seperti itu maka para peramu wisata harusnya menjawab sebagimana arkeolog mendeskripsikan dan merekonsruksi sejarah kebudayaan. Oleh sebab itu, peramu wisata tersebut harus juga memiliki wawa-san dan pengetahuan tentang kearkeologisan. Dengan demikian juga, pariwisata budaya sangat membutuhkan peramu-peramu wisata yang memiliki wawasan dan cara berfikir arkeolog, paling tidak mereka mempunyai dasar-dasar logika berfikir arkeologis. Barangkali meru-pakan hal yang wajar saja kalau selama ini wisatawan menemui ken-dala di lapangan dan pulang tanpa memuaskan, karena terkesan pe-ramu-peramu wisata yang ada hanya bermodalkan pengetahuan sea-danya, terkesan sebatas pelepas hutang, tanpa wawasan yang cukup mengenai objek wisata tersebut. Mereka muncul begitu saja, tanpa kriteria yang jelas.
Hadirin sekalian,
Barangkali bukan merupakan hal yang mengada-ada jika su-dah seharusnya memikirkan untuk memperbanyak lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan kurikulum tentang arkeologi pariwi-sata, semacam Ilmu yang memadukan antara arekologi dan pariwisa-ta, yang diarahkan untuk mendukung kepentingan pariwisata, yang mengajarkan tentang hakekat benda budaya, sebagai benda arkeolo-gis dan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus dijaga, sekali-gus sebagai objek wisata.
Hadirin yang saya hormati,
Sebelum bicara lebih jauh tentang arkeologi pariwisata ada baiknya terlebih dahulu dijelaskan secara sepintas apa itu arkeologi.
Arkeologi berasal dari istilah Yunani, dari kata archaeos yang berarti kuna dan logos yang berarti ilmu. Secara bebas dapat dikatakan arkeologi adalah ilmu tentang kekunoan, yang pada masa lalu disebut ilmu purbakala, tetapi pada tataran atmosfer akademis Indonesia saat ini, justru lebih populer dengan arkeologi saja.
Joukowsky (1980) menyatakan arkeologi adalah ilmu penge-tahuan yang bergelut dengan tinggalan budaya masa lalu yang dila-kukan secara sistematis dan metodologis untuk mempelajari dan me-rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu selengkap mungkin. Untuk mempelajari masa lalu tersebut, arkeologi sangat mengandal-kan kepada tinggalan material budayanya, karena ada anggapan bah-wa tinggalan budaya tersebut merupakan fosilized behavior (fosi-lisasi dari prilaku) manusia pendukungnya. Oleh sebab itu, seseder-hana apapun, sekecil apapun benda budaya adalah refleksi dari bu-dayanya, berisikan endapan-endapan budaya masa lalu tersebut, dan sangat fungsional untuk mengkaji manusia pembuatnya, pemakai (pendukung) budaya tersebut.
Sehubungan dengan itu, oleh sebab itu arkeologi sangat tabu sekali untuk memindahkan, merubah bentuk dan ukuran benda pur-bakala, karena tempat ditemukan, bentuk dan ukuran benda tersebut adalah refleksi dari budaya pendukungnya. Di dalamnya terendap cara dan tempat pembuatan, pemakaian, dan pembuangan benda tersebut.
Clark (1960) memberikan definisi bahwa arkeologi adalah sebuah disiplin ilmu yang berusaha mengungkapkan, mengkaji dan menganalisa kekunoan secara sistematis. Baik Joukowsky maupun Taylor sama-sama menekankan bahwa arkeologi pada intinya meru-pakan ilmu yang berusaha untuk mengungkapkan kebudayaan ma-nusia. Dalam tataran ini agaknya mirip dengan ilmu sejarah dan an-tropologi budaya yang sama-sama berusaha mengungkapkan kebu-dayaan manusia. Oleh sebab itu berkemungkinan ada yang menya-takan arkeologi berebut lahan dengan ilmu sejarah dan antropologi. Pada bagian tertentu memang arkeologi agak mirip dengan ilmu se-jarah yang sama-sama mendalami masa lalu manusia, dan sepertinya juga identik dengan antropologi budaya karena juga sama-sama me-ngungkapkan tentang budaya manusia. Pada hal kalau diperhatikan lebih jauh terdapat perbedaan yang menyolok. Dari pernyataan Jou-kowsky jelas bahwa arkeologi lebih menekankan, dan lebih banyak bergelut dengan tinggalan budaya (material) dalam merekonstruksi kebudayaan manusia pada masa lalu tersebut. Untuk keperluan itu arkeologi telah mengembangkan metode khusus yang membeda-kannya dengan ilmu sejarah dan antropologi.
Seperti yang dikemukakan Taylor (1971) bahwa arkeologi adalah suatu disiplin ilmu yang mengembangkan teknik-teknik khu-sus (seperti ekskavasi) untuk mengumpulkan dan menghasilkan in-formasi-informasi budaya. Dalam arkeologi pada intinya berusaha memperoleh benda-benda budaya, mengkonservasi (memelihara dan melestarikan), merehabilitasi (memugar), masa lalu yang nantinya dipergunakan untuk mengungkapkan budaya masa lalu tersebut.
Sejarah munculnya arkeologi sangat erat hubungannya de-ngan kegiatan peminat benda-benda seni (art collectors) di Eropah pada abad ke-17 M. Pada masa itu para peminat seni begitu bernafsu mengumpulkan benda-benda seni, karena ada anggapan semakin ba-nyak koleksi benda seni yang dikumpulkan akan menambah kesena-ngan hidup, ketenaran, bahkan meningkatkan status sosial mereka. Oleh sebab itu art collectors bersedia menyediakan dana untuk me-ngumpulkan benda-benda seni, baik yang berasal dari Eropah sendiri maupun dari wilayah di luarnya, seperti Afrika, Amerika Selatan, dan terutama yang berasal dari Asia Barat, Asia Selatan, Cina, dan wilayah Asia lainnya. Kegiatan itu bahkan dilakukan dalam skala yang besar, sehingga yang muncul adalah penjarahan terhadap ben-da-benda seni tersebut, dan perusakan situs-situs purbakala karena telah dilakukan penggalian-penggalian secara serampangan.
Benda-benda yang diperoleh kemudian mereka pajang di ga-leri-galeri seni, dan bahkan di museum-museum pribadi mereka. Benda-benda yang dipajang tersebut pada awalnya diberi sedikit ke-terangan seperti: wilayah asal tempat ditemukan, bahan, perkiraan umur, dan lain-lain. Pada perkembangannya, akibat tuntutan dari be-berapa art collectors, pengunjung galeri dan museum, kemudian muncul keinginan untuk memberikan keterangan yang memadai tentang benda-benda seni tersebut. Maka, pada abad ke-19 muncul-lah niat dari mereka untuk mengembangkan suatu sistem dan metode ilmiah dalam mencari dan mengumpulkan benda-benda itu. Dapat dikatakan pada abad ke-19 arkeologi sebagai ilmu telah dirintis dan dirancang. Semenjak itu kemudian bermunculanlah para arkeolog yang profesional di bidangnya.
Dapat dikatakan sejarah munculnya arkeologi tidak bisa dile-paskan dari unsur tourism, karena dipersembahkan untuk museum dan galeri seni yang tak lain adalah untuk kepentingan pariwisata. Bahkan sampai saat ini, sebagian hasil-hasil kegiatan arkeolog masih diperuntukan guna memenuhi museum-museum.
Hadirin sekalian,
Di Indonesia telah berdiri beberapa jurusan dan program studi arkeologi seperti: Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu-Ilmu Bu-daya Universitas Indonesia; Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada; Program Studi Arkeologi di Ju-rusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanudin Ujung Pan-dang; dan Jurusan Arkeologi di Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya Univer-sitas Udayana Bali. Dari empat universitas tersebut, Jurusan Arkeo-logi di Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Gajah Mada, dan Program studi Arkeologi di Fakultas Satra Universitas Hasanudin menekankan terhadap arkeologi murni, hanya program studi arkeologi di Universitas Udayana Bali yang mengkhususkan tentang Arkeologi Pariwisata. Di sisi lain di beberapa kota di Indo-nesia telah berdiri dan bermunculan Perguruan Tinggi Swasta yang bidang keilmuannya khusus tentang Pariwisata yang hampir dipasti-kan belum lagi menyediakan sebuah jurusan dan program studi atau setidaknya sebuah mata kuliah Arkeologi Pariwisata.
Khusus untuk daerah Sumatera, terutama Sumatera Barat sungguh ironis dan ganjil kalau suatu kawasan yang kaya akan te-muan benda purbakala, atau benda arkelogis, dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata budaya tak satupun dijumpai lembaga pendidikan yang menawarkan dan mengajarkan arkeologi pariwisata. Barangkali merupakan suatu yang sangat mendesak, me-ngingat perkembangan arah otonomi daerah yang menekankan kepa-da Kabupaten dan Kota, sehingga akan banyak membutuhkan “prak-tisi” (pegawai) yang mampu mendisain dan “menyulap” daerahnya menjadi tujuan wisata.
Dalam kesempatan ini tidak salah kiranya kalau saya mengu-sulkan agar salah satu perguruan tinggi di Sumatera Barat dapat menjadi pemula (frontir) di Sumatera untuk mendirikan sebuah lembaga studi yang benar-benar mengajarkan dan mengembangkan tentang arkeologi pariwisata.
Ada hal yang sangat penting dalam hal ini, yaitu dengan ada-nya jurusan / program studi arkeologi pariwisata, maka program itu dapat menjadi motor penggerak untuk kajian-kajian budaya dan pa-riwisata untuk kawasan Sumatera, yang selama ini dapat dikatakan tertinggal.
http://herwandi-wendy.blogspot.com/2008/04/pariwisata-budaya-orasi-ilmiah_21.html
Dokumen Emas Pagaruyung Ditelusuri ke Den Haag
Selasa, 03 Mei 2011
SURYADI DARI LEIDEN
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=6031
Padang, Singgalang
Isu tentang adanya utang emas oleh Malaysia kepada Kerajaan Pagaruyung sebesar RM 125 miliar (setara dengan Rp350 triliun) cukup menyita perhatian masyarakat, khususnya di Sumbar. Hal ini karena sejarah Sumatra Barat tidak bisa dilepaskan dengan Kerajaan Pagaruyung tersebut.
Sampai tadi malam, masih banyak warga yang menanyakan kepastian kabar itu kepada Singgalang. Para sejarawan dari Sumbar, tidak ketinggalan pula untuk ikut berkomentar.
Sejarahwan sekaligus Ahli Filologi Minang, Suryadi mengatakan ia akan segera meneliti kebenaran isu ini. Jika terbukti benar, katanya, hal ini akan menjadi warna baru bagi sejarah Indonesia-Malaysia, yang selama ini tidak terungkap.
“Ini adalah wacana yang menarik. Wacana seperti ini perlu dikaji dengan pende-katan sejarah yang lebih komprehensif,” ujar peniliti yang saat ini mengajar di Leiden University, Belanda itu kepada Singgalang, dari Leiden, Senin (2/5).
Untuk membuktikan hal ini, Suryadi berencana menelusuri data dan dokumen transaksi di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Seperti yang diberitakan oleh suratkabar Kontan Edisi Minggu, 2 Mei, seorang WNI bernama E.Suharto mengaku mengetahui dokumen-dokumen tersebut disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag di Belanda.
“Saya berharap dokumen-dokumennya bisa diakses, karena sejarah Indonesia masih banyak yang belum terungkap dengan benar,” ujar Suryadi.
Diragukan
Di lain pihak, sejarahwan dari Universitas Negeri Padang, Mestika Zed meragukan kebenaran isu tersebut. Yang meragukan baginya adalah lalu lintas transaksi antar dua negara tersebut tidak jelas.
“Jika utang itu memang ada, siapakah yang menerimanya? Pemerintah atau keturunan Pagaruyung?” ujar Mestika mempertanyakan. Meski demikian, Mestika berargumen, isu seperti ini berkembang karena masyarakat terbiasa membayangkan adanya harta karun di saat negara sedang dilanda krisis.
“Dalam pembelajaran sejarah, kita mengenal adanya fenomena ratu adil. Orang-orang yang terjepit dalam kesusahan suka membayangkan kemunculan ratu adil ini. Peninggalan Pagaruyung ini salah satu contoh yang cukup relevan untuk hal ini,” ujarnya.
Walaupun meragukan kebenaran wacana ini, Mestika mengatakan hal ini perlu dibuktikan oleh yang lebih berkompeten di bidang sejarah Indonesia dan Malaysia.
Soal utang-piutang ini diberitakan Kontan Minggu dan dikutip Singgalang keesokan harinya. Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Utang tersebut diberikan dengan jaminan senilai RM125 miliar (sekitar Rp350 triliun dengan kurs saat ini).
Upaya penukaran ringgit ini heboh, karena diduga melibatkan pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya repatriasi ini belum kunjung berhasil.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak sama-sekali tidak mengenal nama E. Suharto. “Saya tidak kenal, apa itu nama asli atau samaran,” kata dia. Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada Pagaruyung. Namun, ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia, terutama Kerajaan Negeri Sembilan memang erat.
Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung. (arif)
SURYADI DARI LEIDEN
http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=6031
Padang, Singgalang
Isu tentang adanya utang emas oleh Malaysia kepada Kerajaan Pagaruyung sebesar RM 125 miliar (setara dengan Rp350 triliun) cukup menyita perhatian masyarakat, khususnya di Sumbar. Hal ini karena sejarah Sumatra Barat tidak bisa dilepaskan dengan Kerajaan Pagaruyung tersebut.
Sampai tadi malam, masih banyak warga yang menanyakan kepastian kabar itu kepada Singgalang. Para sejarawan dari Sumbar, tidak ketinggalan pula untuk ikut berkomentar.
Sejarahwan sekaligus Ahli Filologi Minang, Suryadi mengatakan ia akan segera meneliti kebenaran isu ini. Jika terbukti benar, katanya, hal ini akan menjadi warna baru bagi sejarah Indonesia-Malaysia, yang selama ini tidak terungkap.
“Ini adalah wacana yang menarik. Wacana seperti ini perlu dikaji dengan pende-katan sejarah yang lebih komprehensif,” ujar peniliti yang saat ini mengajar di Leiden University, Belanda itu kepada Singgalang, dari Leiden, Senin (2/5).
Untuk membuktikan hal ini, Suryadi berencana menelusuri data dan dokumen transaksi di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Seperti yang diberitakan oleh suratkabar Kontan Edisi Minggu, 2 Mei, seorang WNI bernama E.Suharto mengaku mengetahui dokumen-dokumen tersebut disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag di Belanda.
“Saya berharap dokumen-dokumennya bisa diakses, karena sejarah Indonesia masih banyak yang belum terungkap dengan benar,” ujar Suryadi.
Diragukan
Di lain pihak, sejarahwan dari Universitas Negeri Padang, Mestika Zed meragukan kebenaran isu tersebut. Yang meragukan baginya adalah lalu lintas transaksi antar dua negara tersebut tidak jelas.
“Jika utang itu memang ada, siapakah yang menerimanya? Pemerintah atau keturunan Pagaruyung?” ujar Mestika mempertanyakan. Meski demikian, Mestika berargumen, isu seperti ini berkembang karena masyarakat terbiasa membayangkan adanya harta karun di saat negara sedang dilanda krisis.
“Dalam pembelajaran sejarah, kita mengenal adanya fenomena ratu adil. Orang-orang yang terjepit dalam kesusahan suka membayangkan kemunculan ratu adil ini. Peninggalan Pagaruyung ini salah satu contoh yang cukup relevan untuk hal ini,” ujarnya.
Walaupun meragukan kebenaran wacana ini, Mestika mengatakan hal ini perlu dibuktikan oleh yang lebih berkompeten di bidang sejarah Indonesia dan Malaysia.
Soal utang-piutang ini diberitakan Kontan Minggu dan dikutip Singgalang keesokan harinya. Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Utang tersebut diberikan dengan jaminan senilai RM125 miliar (sekitar Rp350 triliun dengan kurs saat ini).
Upaya penukaran ringgit ini heboh, karena diduga melibatkan pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya repatriasi ini belum kunjung berhasil.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak sama-sekali tidak mengenal nama E. Suharto. “Saya tidak kenal, apa itu nama asli atau samaran,” kata dia. Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada Pagaruyung. Namun, ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia, terutama Kerajaan Negeri Sembilan memang erat.
Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung. (arif)
MALAYSIA BERUTANG EMAS PADA PAGARUYUNG
Di kopi di situs hariansinggalang.co.id pada hari Selasa, 3 Mei 2011 | 16:40 WIB
Senin, 02 Mei 2011
http://headlines.vivanews.com/news/read/218131-malaysia-utang-emas-kerajaan-pagaruyung-Nilainya Mencapai Rp350 Triliun
ARIF RIZKI
Padang - Singgalang
Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Bila dikonversi dengan kurs saat ini, jaminan utang tersebut senilai Rp350 triliun (RM125 miliar).
Upaya penukaran ringgit (1 RM = Rp2.800) ini heboh, karena diduga melibatkan pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya repatriasi ini belum kunjung berhasil.
Dikutip dari Surat Kabar Kontan, edisi Minggu, 2 Mei 2011, seorang WNI, E.Suharto menyebutkan adanya dokumen resmi tentang perjanjian Malaysia-Indonesia tentang peminjaman emas oleh Malaysia ke Indonesia. “Dokumen itu disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Dan salinannya tersimpan di sebuah bank di Swiss,” ujarnya.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak tadi malam sama-sekali tidak mengenal nama E. Suharto. “Saya tidak kenal, apa itu nama asli atau samaran,” kata dia.
Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada Pagaruyung. Namun, ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia, terutama Kerajaan Negeri Sembilan memang erat.
Menurut Raudha ia belum tahu soal pinjaman itu. Yang ia tahu banyak orang mengaku sebagai ahli waris Pagaruyung. “Setelah ini mungkin akan semakin banyak yang mengaku,” kata dia.
Ia meminta agar fakta dan data soal pinjam-meminjam antara Malaysia dan Pagaruyung itu, diungkap dengan jelas, tidak ngambang.
“Pertanyaannya sekarang apa bisa ditelusuri?” Tanya Raudha pula.
Bagi dia, harus dicari kebenaran dari segala hal dan segala lini.Raudha memamg belum pernah mendengar soal kasus Malaysia tersebut. Namun ia pernah menerima cerita tentang harta Pagaruyung di Arab Saudi. “Tiap tahun kami menerima kurma terbaik dari Taif,” kata dia. Itu pertanda putih hati bahwa tanah Pagaruyung yang dibeli di Arab Saudi, dipinjam pakai oleh kerajaan di sana. Belakangan tanah itu dibeli, tapi uangnya tak pernah sampai ke Pagaruyung. “Kabarnya urusannya ribet,” kata dia.
Sejak 1955
Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung.
Setelah kolateral emas itu diterima dibuatlah perjanjian, Malaysia harus membayar pinjaman ini selama 30 hingga 40 tahun. Malaysia rutin membayar sampai 1988. “Sayangnya setelah 1989 hingga 2010, Malaysia tidak melanjutkan pembayaran,” ujar E.Suharto kepada Kontan. Tabloid ini menghiasi sampul depannya dengan judul : Menagih Harta Karun Pagaruyung. Lantas di sampul yang sama dipampangkan gambar Istano Silinduang Bulan yang terbakar itu. Di latarbelakang Istano, terpampang uang ringgit.
Mencapai RM125 miliar
Hingga 1988 terkumpul uang RM125 miliar, yang merupakan hasil pembayaran emas. Namun uang tersebut, ringgit lama. Agar bisa dipakai untuk bertransaksi, uang tersebut diremajakan dengan bantuan orang dekat Perdana Mentri Malaysia Abdullah Badawi, Datuk Amir. Tahun 2003 silam ia meyakinkan E.Suharto bisa menukar ringgit lama tersebut menjadi ringgit baru.
Menyadari, repatriasi ini urusan antarpemerintah, E.Suharto juga meminta bantuan kepada pemerintah. “Saya membuat surat resmi kepada pemerintah untuk bisa membantu proses repatriasi,” ujarnya.
Dengan dimintanya bantuan tersebut, muncullah dua lembar protective statement dari Bambang pada 2007 dan Sekretaris Kementrian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Sudi Silalahi, pada 2003 silam. E.Suharto juga ikut rapat di Depkeu untuk melancarkan repatriasi tersebut. Namun ia katakan tidak ada kongkalingkong, meskipun ada isu tidak sedap mengenai komisi 15 persen.
“Dalam surat itu Bambang menyatakan, ia dapat saran dari Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan, Mulia P.Nasution agar ringgit itu tetap diletakkan di Jakarta,” ujarnya.
Baru-baru ini E.Suharto mengirim surat kepada PM Najib untuk melanjutkan proses repatriasi. Ia ingin upayanya ini dilihat sebagai cara pengembalian aset bekas kerajaan Indonesia pada negara.
Membantah
Para pejabat yang disebut-sebut dalam dokumen ini membantah adanya utang kepada Kerajaan Pagaruyung tersebut. Sudi Silalahi mengaku mendengar kabar tersebut dari media saja, tanpa bisa memastikan kebenarannya. Wakil Duta Besar Malaysia di Jakarta Syed Muhammad Hasrin juga mengaku tidak mengetahui isu repatriasi ini karena tidak pernah melihat surat-suratnya.
Begitu pula Mulia yang terkejut karena namanya disebut-sebut dalam dokumen itu. “Hal seperti ini harus dicek serius, apalagi yang berkaitan dengan kejayaan masa lalu,” ujar Mulia.
Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas isu yang berkaitan dengan Indonesia-Malaysia dinilai perlu diusut tuntas, karena isu mengenai harta karun peninggalan sejarah tidak terdengar sekali ini saja.
Pengamatan Singgalang, Tabloid Kontan laris manis di beberapa titik di Jakarta sepanjang Minggu. Di Bandara Soekarno Hatta, hampir semua penumpang pesawat menuju Padang membelinya.
“Saya juga beli satu, tapi di lapak koran Imam Bonjol Padang,” kata ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib alias Upita Agistin. (*)
Di kopi DARI http://www.facebook.com/notes/f-malin-sutan/005-kliping-emas-kerajaan-pagaruyung/181374005245987, JUGA DIKOPI DARI situs vivanews.com pada hari Selasa, 3 Mei 2011 | 16:40 WIB
http://headlines.vivanews.com/news/read/218131-malaysia-utang-emas-kerajaan-pagaruyung-
Headlines
Malaysia Utang Emas Kerajaan Pagarruyung?
Nilai dikabarkan triliunan rupiah.
"KALAU BENAR ADA, KITA BANGUN JEMBATAN KE MALAYSIA."
Selasa, 3 Mei 2011, 12:43 WIB
Elin Yunita Kristanti
VIVAnews -- Negeri jiran Malaysia, dikabarkan memiliki sejarah utang pada Kerajaan Pagarruyung, Sumatera Barat. Utang itu berupa emas, jumlahnya tak main-main, diduga sampai Rp350 triliun, jika dikonversikan dengan nilai uang saat ini.
Seperti dilansir koran Kontan, adalah E Suharto yang menyebut ada dokumen resmi tentang peminjaman emas itu. Dokumen kini tersimpan di Mahkamah Internasional Den Haag, Belanda, salinannya disimpan di sebuah bank di Swiss.
Utang Malaysia pada Pagarruyung dikabarkan terjadi pada 1955. Diawali pertemuan pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman dengan Presiden RI Soekarno. Peminjaman terkait rencana kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Pinjaman itu sempat dicicil sampai tahun 1989.
Bagaimana tanggapan pihak Pagarruyung?
Budayawan, Wisran Hadi, sekaligus suami pewaris Pagarruyung, Raudha Thaib justru mengaku bingung dengan pengakuan seseorang bernama E Suharto. Sebab, dalam silsilah yang berisi 33 generasi Pagarruyung, nama tersebut tidak ada. Dari mana ia tahu keberadaan harta itu?
Namun, ia mengaku sempat mendengar isu harta karun. Namun versinya jauh berbeda. "Dulu waktu perang Padri, memang ada 30 kuda beban mengangkut emas dinyatakan hilang di rawa-rawa. Apakah emas ini yang sampai ke Malaysia, atau masih terkubur? Tapi kalau sampai ke Malaysia kecil kemungkinan," kata dia saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 3 Mei 2011.
Wisran menambahkan, kesahihan informasi tersebut masih dipertanyakan. Saat mengajar di Akademi Seni Kebangsaan, Malaysia selama lima tahun, ia hanya menemukan fakta bahwa Pagarruyung dan Negeri Sembilan masih satu keturunan. Tak ada soal pinjam-meminjam emas.
Meski demikian, akan lebih baik jika harta itu benar ada. "Saya pernah bilang ke istri saya, kalau benar ada, kita bangun jembatan ke Malaysia," kata dia, berkelakar.
Sementara, sejarawan Universitas Andalas Profesor Gusti Asnan mengaku sudah mendengar isu tersebut sejak lama. Namun, hanya sekedar kabar angin, tak ada bukti.
"Dari data dan fakta yang diteliti tak menemukan salah satupun bukti tentang pengakuan utang piutang antara Pagarruyung dengan Malaysia," kata dia saat dihubungi VIVAnews.com.
Gusti Asnan mengaku pernah meneliti sejarah Sumatera Barat tahun 2007 lalu. Hasil-hasil penelitian ia tuangkan melalui buku, "Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an".
Soal utang-piutang emas itu termasuk yang diteliti. Data-data pendukung dikumpulkan, sampai ke Negeri Belanda. "Di Den Haag belum pernah ditemukan arsip seperti itu. Kalau memang ada di Mahkamah Internasional, paling tidak ada arsipnya di Kemenlu. Saat saya ke sana tidak ada," tambah dia.
Ditambahkan dia, Pagarruyung jatuh pasca perang Padri. Pada tahun 1850-an, Pagarruyung hidup dari tunjangan yang diberikan pemerintah kala itu. Sejarah RI merdeka, kerajaan menyatakan diri melebur dengan Indonesia. Dari sejarahnya, raja-raja Pagarruyung sebatas simbol, tak punya tentara, tak punya kekuasaan. Tapi punya pengakuan. Istana Pagarruyung pun baru dibangun tahun 1970-an, era Soeharto.
Mungkinkan Pagarruyung punya simpanan emas sedemikian banyak?
Menurut Gusti Asnan, dilihat dari sejarah, Sumatera Barat dulu memang merupakan daerah kaya emas. "Pada abad ke-16 dan abad ke-17. Abad ke-18 mulai menurun. Masuk ke abad-19, ada 17 tambang besar, namun itu dikelola Belanda dan hasilnya dibawa ke Batavia. "Tak mungkin 1955 Kerajaan Pagarruyung menyerahkan emas sebanyak itu ke pemerintah Malaysia. Tak masuk akal," kata dia.
Informasi utang emas Malaysia pada Pagaruyung, tambah Gusti Asnan, harus dibuktikan kebenarannya. "Bukannya saya merendahkan Pagarruyung, ini apa adanya, faktanya seperti ini." (sj)
Laporan: Eri Naldi| Padang
• VIVAnews
Senin, 02 Mei 2011
http://headlines.vivanews.com/news/read/218131-malaysia-utang-emas-kerajaan-pagaruyung-Nilainya Mencapai Rp350 Triliun
ARIF RIZKI
Padang - Singgalang
Malaysia dikabarkan berhutang emas kepada Kerajaan Pagaruyung dari 1955 hingga saat ini. Bila dikonversi dengan kurs saat ini, jaminan utang tersebut senilai Rp350 triliun (RM125 miliar).
Upaya penukaran ringgit (1 RM = Rp2.800) ini heboh, karena diduga melibatkan pejabat tinggi Malaysia dan Indonesia, bahkan ada fee 15 persen. Namun upaya repatriasi ini belum kunjung berhasil.
Dikutip dari Surat Kabar Kontan, edisi Minggu, 2 Mei 2011, seorang WNI, E.Suharto menyebutkan adanya dokumen resmi tentang perjanjian Malaysia-Indonesia tentang peminjaman emas oleh Malaysia ke Indonesia. “Dokumen itu disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Dan salinannya tersimpan di sebuah bank di Swiss,” ujarnya.
Ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib yang dikontak tadi malam sama-sekali tidak mengenal nama E. Suharto. “Saya tidak kenal, apa itu nama asli atau samaran,” kata dia.
Raudha juga belum tahu soal Malaysia meminjam uang pada Pagaruyung. Namun, ikatan kekeluargaan antara Pagaruyung dan Malaysia, terutama Kerajaan Negeri Sembilan memang erat.
Menurut Raudha ia belum tahu soal pinjaman itu. Yang ia tahu banyak orang mengaku sebagai ahli waris Pagaruyung. “Setelah ini mungkin akan semakin banyak yang mengaku,” kata dia.
Ia meminta agar fakta dan data soal pinjam-meminjam antara Malaysia dan Pagaruyung itu, diungkap dengan jelas, tidak ngambang.
“Pertanyaannya sekarang apa bisa ditelusuri?” Tanya Raudha pula.
Bagi dia, harus dicari kebenaran dari segala hal dan segala lini.Raudha memamg belum pernah mendengar soal kasus Malaysia tersebut. Namun ia pernah menerima cerita tentang harta Pagaruyung di Arab Saudi. “Tiap tahun kami menerima kurma terbaik dari Taif,” kata dia. Itu pertanda putih hati bahwa tanah Pagaruyung yang dibeli di Arab Saudi, dipinjam pakai oleh kerajaan di sana. Belakangan tanah itu dibeli, tapi uangnya tak pernah sampai ke Pagaruyung. “Kabarnya urusannya ribet,” kata dia.
Sejak 1955
Utang Malaysia pada Pagaruyung terjadi pada 1955. Saat itu pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman bertemu dengan Presiden RI Soekarno. Kedua pemimpin, kata Kontan dalam laporan utamanya, membicarakan soal kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Salah satu yang dibicarakan keinginan Malaysia untuk mencetak uang. Namun, saat itu Malaysia tidak memiliki jaminan atau kolateral berupa emas sebelum menerbitkan uang kertas. Singkatnya, Malaysia mendapatkan pinjaman emas dari Pagaruyung.
Setelah kolateral emas itu diterima dibuatlah perjanjian, Malaysia harus membayar pinjaman ini selama 30 hingga 40 tahun. Malaysia rutin membayar sampai 1988. “Sayangnya setelah 1989 hingga 2010, Malaysia tidak melanjutkan pembayaran,” ujar E.Suharto kepada Kontan. Tabloid ini menghiasi sampul depannya dengan judul : Menagih Harta Karun Pagaruyung. Lantas di sampul yang sama dipampangkan gambar Istano Silinduang Bulan yang terbakar itu. Di latarbelakang Istano, terpampang uang ringgit.
Mencapai RM125 miliar
Hingga 1988 terkumpul uang RM125 miliar, yang merupakan hasil pembayaran emas. Namun uang tersebut, ringgit lama. Agar bisa dipakai untuk bertransaksi, uang tersebut diremajakan dengan bantuan orang dekat Perdana Mentri Malaysia Abdullah Badawi, Datuk Amir. Tahun 2003 silam ia meyakinkan E.Suharto bisa menukar ringgit lama tersebut menjadi ringgit baru.
Menyadari, repatriasi ini urusan antarpemerintah, E.Suharto juga meminta bantuan kepada pemerintah. “Saya membuat surat resmi kepada pemerintah untuk bisa membantu proses repatriasi,” ujarnya.
Dengan dimintanya bantuan tersebut, muncullah dua lembar protective statement dari Bambang pada 2007 dan Sekretaris Kementrian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Sudi Silalahi, pada 2003 silam. E.Suharto juga ikut rapat di Depkeu untuk melancarkan repatriasi tersebut. Namun ia katakan tidak ada kongkalingkong, meskipun ada isu tidak sedap mengenai komisi 15 persen.
“Dalam surat itu Bambang menyatakan, ia dapat saran dari Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan, Mulia P.Nasution agar ringgit itu tetap diletakkan di Jakarta,” ujarnya.
Baru-baru ini E.Suharto mengirim surat kepada PM Najib untuk melanjutkan proses repatriasi. Ia ingin upayanya ini dilihat sebagai cara pengembalian aset bekas kerajaan Indonesia pada negara.
Membantah
Para pejabat yang disebut-sebut dalam dokumen ini membantah adanya utang kepada Kerajaan Pagaruyung tersebut. Sudi Silalahi mengaku mendengar kabar tersebut dari media saja, tanpa bisa memastikan kebenarannya. Wakil Duta Besar Malaysia di Jakarta Syed Muhammad Hasrin juga mengaku tidak mengetahui isu repatriasi ini karena tidak pernah melihat surat-suratnya.
Begitu pula Mulia yang terkejut karena namanya disebut-sebut dalam dokumen itu. “Hal seperti ini harus dicek serius, apalagi yang berkaitan dengan kejayaan masa lalu,” ujar Mulia.
Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas isu yang berkaitan dengan Indonesia-Malaysia dinilai perlu diusut tuntas, karena isu mengenai harta karun peninggalan sejarah tidak terdengar sekali ini saja.
Pengamatan Singgalang, Tabloid Kontan laris manis di beberapa titik di Jakarta sepanjang Minggu. Di Bandara Soekarno Hatta, hampir semua penumpang pesawat menuju Padang membelinya.
“Saya juga beli satu, tapi di lapak koran Imam Bonjol Padang,” kata ahli waris Kerajaan Pagaruyung, Raudha Thaib alias Upita Agistin. (*)
Di kopi DARI http://www.facebook.com/notes/f-malin-sutan/005-kliping-emas-kerajaan-pagaruyung/181374005245987, JUGA DIKOPI DARI situs vivanews.com pada hari Selasa, 3 Mei 2011 | 16:40 WIB
http://headlines.vivanews.com/news/read/218131-malaysia-utang-emas-kerajaan-pagaruyung-
Headlines
Malaysia Utang Emas Kerajaan Pagarruyung?
Nilai dikabarkan triliunan rupiah.
"KALAU BENAR ADA, KITA BANGUN JEMBATAN KE MALAYSIA."
Selasa, 3 Mei 2011, 12:43 WIB
Elin Yunita Kristanti
VIVAnews -- Negeri jiran Malaysia, dikabarkan memiliki sejarah utang pada Kerajaan Pagarruyung, Sumatera Barat. Utang itu berupa emas, jumlahnya tak main-main, diduga sampai Rp350 triliun, jika dikonversikan dengan nilai uang saat ini.
Seperti dilansir koran Kontan, adalah E Suharto yang menyebut ada dokumen resmi tentang peminjaman emas itu. Dokumen kini tersimpan di Mahkamah Internasional Den Haag, Belanda, salinannya disimpan di sebuah bank di Swiss.
Utang Malaysia pada Pagarruyung dikabarkan terjadi pada 1955. Diawali pertemuan pemimpin pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman dengan Presiden RI Soekarno. Peminjaman terkait rencana kemerdekaan penuh Malaysia dari Inggris. Pinjaman itu sempat dicicil sampai tahun 1989.
Bagaimana tanggapan pihak Pagarruyung?
Budayawan, Wisran Hadi, sekaligus suami pewaris Pagarruyung, Raudha Thaib justru mengaku bingung dengan pengakuan seseorang bernama E Suharto. Sebab, dalam silsilah yang berisi 33 generasi Pagarruyung, nama tersebut tidak ada. Dari mana ia tahu keberadaan harta itu?
Namun, ia mengaku sempat mendengar isu harta karun. Namun versinya jauh berbeda. "Dulu waktu perang Padri, memang ada 30 kuda beban mengangkut emas dinyatakan hilang di rawa-rawa. Apakah emas ini yang sampai ke Malaysia, atau masih terkubur? Tapi kalau sampai ke Malaysia kecil kemungkinan," kata dia saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 3 Mei 2011.
Wisran menambahkan, kesahihan informasi tersebut masih dipertanyakan. Saat mengajar di Akademi Seni Kebangsaan, Malaysia selama lima tahun, ia hanya menemukan fakta bahwa Pagarruyung dan Negeri Sembilan masih satu keturunan. Tak ada soal pinjam-meminjam emas.
Meski demikian, akan lebih baik jika harta itu benar ada. "Saya pernah bilang ke istri saya, kalau benar ada, kita bangun jembatan ke Malaysia," kata dia, berkelakar.
Sementara, sejarawan Universitas Andalas Profesor Gusti Asnan mengaku sudah mendengar isu tersebut sejak lama. Namun, hanya sekedar kabar angin, tak ada bukti.
"Dari data dan fakta yang diteliti tak menemukan salah satupun bukti tentang pengakuan utang piutang antara Pagarruyung dengan Malaysia," kata dia saat dihubungi VIVAnews.com.
Gusti Asnan mengaku pernah meneliti sejarah Sumatera Barat tahun 2007 lalu. Hasil-hasil penelitian ia tuangkan melalui buku, "Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an".
Soal utang-piutang emas itu termasuk yang diteliti. Data-data pendukung dikumpulkan, sampai ke Negeri Belanda. "Di Den Haag belum pernah ditemukan arsip seperti itu. Kalau memang ada di Mahkamah Internasional, paling tidak ada arsipnya di Kemenlu. Saat saya ke sana tidak ada," tambah dia.
Ditambahkan dia, Pagarruyung jatuh pasca perang Padri. Pada tahun 1850-an, Pagarruyung hidup dari tunjangan yang diberikan pemerintah kala itu. Sejarah RI merdeka, kerajaan menyatakan diri melebur dengan Indonesia. Dari sejarahnya, raja-raja Pagarruyung sebatas simbol, tak punya tentara, tak punya kekuasaan. Tapi punya pengakuan. Istana Pagarruyung pun baru dibangun tahun 1970-an, era Soeharto.
Mungkinkan Pagarruyung punya simpanan emas sedemikian banyak?
Menurut Gusti Asnan, dilihat dari sejarah, Sumatera Barat dulu memang merupakan daerah kaya emas. "Pada abad ke-16 dan abad ke-17. Abad ke-18 mulai menurun. Masuk ke abad-19, ada 17 tambang besar, namun itu dikelola Belanda dan hasilnya dibawa ke Batavia. "Tak mungkin 1955 Kerajaan Pagarruyung menyerahkan emas sebanyak itu ke pemerintah Malaysia. Tak masuk akal," kata dia.
Informasi utang emas Malaysia pada Pagaruyung, tambah Gusti Asnan, harus dibuktikan kebenarannya. "Bukannya saya merendahkan Pagarruyung, ini apa adanya, faktanya seperti ini." (sj)
Laporan: Eri Naldi| Padang
• VIVAnews
Tanah Datar Menyimpan Jejak Adityawarman
TANAH DATAR, KOMPAS.com--Para peneliti dari Jerman, Australia, dan Indonesia yang tergabung dalam tim ekskavasi arkeologis untuk menemukan lokasi pusat Kerajaan Adityawarman berhasil mengumpulkan sejumlah temuan signifikan, terkait sisa-sisa kejayaan Adityawarman di Tanah Datar, Sumatera Barat.
Salah satu temuan yang cukup mengesankan dalam ekskavasi yang dibiayai Pemerintah Jerman itu, sebuah sumur dalam lanskap mirip tempat pemandian.
Ekskavasi di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang berakhir pada Jumat (15/4) itu, menemukan sejumlah peninggalan seperti perhiasan, keramik, sumur kuno, dan sisa-sisa struktur bangunan.
Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Batusangkar Budi Istiawan mengatakan, sosok Adityawarman yang bisa disejajarkan dengan Mahapatih Gadjah Mada dalam membangun Kerajaan Majapahit, diketahui menjadi raja di daratan Sumatera antara tahun 1347-1375. Hal itu didasarkan pada patung Amoghapasa tahun 1347 dan Prasasti Saroaso 1 di Tanah Datar tahun 1375.
Salah satu temuan yang cukup mengesankan dalam ekskavasi yang dibiayai Pemerintah Jerman itu, sebuah sumur dalam lanskap mirip tempat pemandian. Pada sumur yang masih digenangi air lewat aliran air dari sela-sela dinding bebatuan di atasnya itu, dimungkinkan pula terdapat kolam kuno untuk pemandian yang belum diekskavasi.
”Mungkin tahun depan akan kami ekskavasi lagi,” kata Ketua Tim Proyek Ekskavasi Arkeologi Tanah Datar 2011, Prof Dr Dominik Bonatz. Ia butuh sekitar dua pekan untuk menemukan keseluruhan struktur sumur dan bebatuan yang diduga sebagai lokasi pemandian itu.
Temuan lain yang juga memberi makna adalah dua buah mata kapak genggam dari batu dengan ujung diruncingkan. Ditemukan pula perhiasan manik-manik dari kaca beragam warna, serta tutup wadah berbahan perunggu.
Salah seorang peneliti, Dr Mai Lin Tjoa-Bonatz, ketika menunjukkan tutup wadah berbahan perunggu yang tampak menghitam itu terlihat sangat terkesan akan dekorasi yang menghiasinya.
”Ini sudah terlihat ada dekorasinya, mengagumkan,” kata Mai sembari menunjukkan artefak berukuran 5 cm itu.
Menurut Dominik, tutup wadah berbahan perunggu itu kemungkinan dipergunakan sebagai pasangan wadah penyimpan sirih atau semacamnya.
Kedatangan keramik asal China pada masa Dinasti Song dan Dinasti Ming juga tak luput menjadi temuan. menurut Dominik berasal dari masa Dinasti Song dan Dinasti Ming. ”Mungkin datang sekitar abad ke-14, bertepatan masa Kerajaan Adityawarman,” kata Dominik.
Tim yang terdiri dari perwakilan Freie Universitat Berlin, Puslitbang Arkenas, Balai Arkeologi Bandung, Balai Arkeologi Medan, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar, itu juga menemukan sejumlah bekas lubang (postholes).
Patrick McCartney, arkeolog dari Australia mengaku amat terkesan dengan kegiatan ekskavasi ini. ”Melelahkan tetapi juga menyenangkan. Luar biasa, kami bisa melihat langsung Gunung Marapi,” kata Patrick McCartney, arkeolog dari Australia sembari menunjuk ke arah utara.
Ekskavasi itu terutama dilakukan pada dua wilayah perbukitan, yakni Bukit Kincir dan Bukit Damar di Jorong Bukit Gombak, pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut.
Ekskavasi dilakukan dengan sistem penggalian parit (trench) berjumlah 11 buah dengan ukuran 2 x 3 meter - 10 x 10 meter. Ekskavasi itu lebih memilih metode layer ketimbang spit atau lot. ”Agar bisa mencari dengan lebih detail,” kata Johannes Greger, peneliti lainnya.http://oase.kompas.com/read/2011/04/16/09003127/Tanah.Datar.Menyimpan.Jejak.Adityawarman
Salah satu temuan yang cukup mengesankan dalam ekskavasi yang dibiayai Pemerintah Jerman itu, sebuah sumur dalam lanskap mirip tempat pemandian.
Ekskavasi di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang berakhir pada Jumat (15/4) itu, menemukan sejumlah peninggalan seperti perhiasan, keramik, sumur kuno, dan sisa-sisa struktur bangunan.
Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Batusangkar Budi Istiawan mengatakan, sosok Adityawarman yang bisa disejajarkan dengan Mahapatih Gadjah Mada dalam membangun Kerajaan Majapahit, diketahui menjadi raja di daratan Sumatera antara tahun 1347-1375. Hal itu didasarkan pada patung Amoghapasa tahun 1347 dan Prasasti Saroaso 1 di Tanah Datar tahun 1375.
Salah satu temuan yang cukup mengesankan dalam ekskavasi yang dibiayai Pemerintah Jerman itu, sebuah sumur dalam lanskap mirip tempat pemandian. Pada sumur yang masih digenangi air lewat aliran air dari sela-sela dinding bebatuan di atasnya itu, dimungkinkan pula terdapat kolam kuno untuk pemandian yang belum diekskavasi.
”Mungkin tahun depan akan kami ekskavasi lagi,” kata Ketua Tim Proyek Ekskavasi Arkeologi Tanah Datar 2011, Prof Dr Dominik Bonatz. Ia butuh sekitar dua pekan untuk menemukan keseluruhan struktur sumur dan bebatuan yang diduga sebagai lokasi pemandian itu.
Temuan lain yang juga memberi makna adalah dua buah mata kapak genggam dari batu dengan ujung diruncingkan. Ditemukan pula perhiasan manik-manik dari kaca beragam warna, serta tutup wadah berbahan perunggu.
Salah seorang peneliti, Dr Mai Lin Tjoa-Bonatz, ketika menunjukkan tutup wadah berbahan perunggu yang tampak menghitam itu terlihat sangat terkesan akan dekorasi yang menghiasinya.
”Ini sudah terlihat ada dekorasinya, mengagumkan,” kata Mai sembari menunjukkan artefak berukuran 5 cm itu.
Menurut Dominik, tutup wadah berbahan perunggu itu kemungkinan dipergunakan sebagai pasangan wadah penyimpan sirih atau semacamnya.
Kedatangan keramik asal China pada masa Dinasti Song dan Dinasti Ming juga tak luput menjadi temuan. menurut Dominik berasal dari masa Dinasti Song dan Dinasti Ming. ”Mungkin datang sekitar abad ke-14, bertepatan masa Kerajaan Adityawarman,” kata Dominik.
Tim yang terdiri dari perwakilan Freie Universitat Berlin, Puslitbang Arkenas, Balai Arkeologi Bandung, Balai Arkeologi Medan, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar, itu juga menemukan sejumlah bekas lubang (postholes).
Patrick McCartney, arkeolog dari Australia mengaku amat terkesan dengan kegiatan ekskavasi ini. ”Melelahkan tetapi juga menyenangkan. Luar biasa, kami bisa melihat langsung Gunung Marapi,” kata Patrick McCartney, arkeolog dari Australia sembari menunjuk ke arah utara.
Ekskavasi itu terutama dilakukan pada dua wilayah perbukitan, yakni Bukit Kincir dan Bukit Damar di Jorong Bukit Gombak, pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut.
Ekskavasi dilakukan dengan sistem penggalian parit (trench) berjumlah 11 buah dengan ukuran 2 x 3 meter - 10 x 10 meter. Ekskavasi itu lebih memilih metode layer ketimbang spit atau lot. ”Agar bisa mencari dengan lebih detail,” kata Johannes Greger, peneliti lainnya.http://oase.kompas.com/read/2011/04/16/09003127/Tanah.Datar.Menyimpan.Jejak.Adityawarman
TANJUNG PERIUK DAN HILANGNYA KEARIFAN BUDAYA
Oleh. M. Yunis*
Menarik jika membaca cerita kosmologi mitos Yunani. Kala itu Zesus bertentangan dengan saudaranya sendiri, Poseidon. Pertentangan itu diwujudkan hingga ke Bumi. Pada masa itu Zeus kehilangan petirnya, Zeus menuduh anak Poseidon (adik Zeus sendiri) yang mengambil petir tersebut, hampir saja terjadi perang besar di antara dua orang Dewa yang bersaudara itu. Ternyata setelah fakta terungkap, si pencuri petir Zeus bukanlah anak Poseidon, melainkan anak dari seorang musuh berbuyutan kerajaan Dewa Olympus, pada waktu itu dikurung di dalam neraka dialah Hades. Isu hilangnya petir Zeus diindikasikan adanya usaha perebutan kekuasaan pucuk pimpinan Dewa yang menguasai alam semesta.
Cerita mitos di atas mengidikasikan adanya perebutan kekuasaan oleh pihak tertentu terhadap Zeus karena sudah lama berkuasa. Sudah sepatutnya Zeus memberikan kekuasaannya kepada yang muda. Hal itu diusahakan oleh Hades dengan putranya, Hades sendiri sudah lama terkurung di dalam neraka, dia ingin bebas dan merebut kekuasaan Zeus. Bagi Hades sudah saatnya kekuasaan diroling dan barulah terlihat keadilan di dalam pelaksanaan kekuasaan.
Secara langsung Mitos Yunani di atas memang tidak berkaitan dengan cerita Tanjung Periuk membara. Tetapi adanya kesamaan tanda dan penanda yang dinginkan mengindikasikan kesejajaran Mitos Yunani dengan Pasca kejadian di Tanjung Periuk. Pasca bentrok Tanjuang Periok 14 april 2010, dikatakan adanya unsur lain, adu domba oleh pihak yang mempunyai kepentingan, politis, kekuasaan dan lain sebagainya (Padang Ekspres, Kamis/15 April/2010).
Pandangan di atas dianggap wajar karena semakin memanasnya suasana politik di Indonesia, semuanya seakan-akan patut dipertanyakan, termasuk agama, ideologi rakyat, dan kebudayaan. Kiranya bisa dianggap sebagai tameng yang ampuh di dalam memperkuat pengaruh. Sementara itu pernyataan-pernyataan dan isu-isu yang muncul dari tanda simulakra dibungkus ke dalam rantai abadi tanda melalui media, slogan politis. Jika tidak bisa dikatakan sebuah arketif, taktik itu dianggap lebih mampu menanggulangi persoalan di tingkat bawah. Tetapi, sesunggunya di sela-sela percaturan kepentingan tersebut terdapat tanda-tanda liar yang sengaja dikembangkan, dan tanda yang daur ulang terhadap tanda-tanda masa lalu untuk kepentingan masa sekarang. Kasus Tanjung Periuk adalah daur ulang dari tanda-tanda Mitos Yunani di atas. Kerusuhan yang diidentikan dengan perebutan kekuasaan, nilai-nilai politis tertentu, roling kekuasaan seperti yang terjadi dalam mitos Kerajaan Para Dewa Yunani, dianggap sebuah fobia tertentu dan tentunya membahayakan bagi pemerintahan yang sah.
Kecerdasan Budaya
Menarik sekali membaca tulisan Fadlillah tentang Kecerdasan Budaya (2007). Fadlillah menjelaskan bahwa adanya kebiasaan lupa atau sengaja dari kepentingan politis untuk menepikan kecerdasan budaya. Kecerdasan budaya yang dimaksud Fadlillah adalah adanya tradisi membaca pada masyarakat tradisional, tradisi menghormati hukum, tradisi menghargai peninggalan lama, dan juga tradisi menghargai mitos setempat. Baginya timbulnya tradisi mengancurkan peninggalan lama, artefak sejarah, cerita-erita lama adalah tradisi kebodohan yang selalu di pelihara.
Fadlillah ingin menegaskan bahwa penyelesaikan konflik di tingkat bawah harus dilakukan dengan pembacaan budaya, tradisi (persuasif). Pendekatan ini tidak perlu melibatkan unsur negatif, seperti logos kuno, ketinggalan zaman. Pembacaan seperti ini diharuskan menepikan pengetahuan konvensional yang selama ini diterima dari atas, seperti pepatah minang, ‘’titiak dari ateh (titisan penguasa)’’ sudah sepatutnya ditukar dengan ‘’mambasuik dari bumi (kearifan lokal)’’. Kearifan-kearifan lokal seperti ini lebih bermanfaat untuk memupuskan semangat rakyat bawah dalam melakukan tindakan anarkis yang pada akhirnya merugikan kedua belah pihak, baik pemerintahan maupun dari rakyat.
Pendapat yang serupa pernah dinyatakan oleh Mak Katik budayawan Sumatra Barat (Diskusi kebudayaan tahun 2007 di Hotel Ambacang Padang sebelum gempa). Menurutnya, ada tiga cara pandang dalam melihat sebah fenomena kebudayaan, dicontohkannya pada sepetak sawah petani. Pertama, sebagian orang memandang sawah dari atas bukit, yang tampak hanya petakan sawah dan petani yang sedang mengaduk-ngaduk di dalam petakan sawah yang berwarna hijau. Arti kata hanya bentuk saja yang terlihat. Cara pandang ini melupakan dan mensamarkan adanya air, tanah lumpur, dan mahluk hidup yang hidup di dalam petak sawah sebagai isi. Kedua, sebagian orang memandang sawah dari atas pematang sawah. Pandangan seperti ini akan memperjelas gambaran petakatan sawah terdapat seorang petani, air, tanah, tumbuhan padi, dan ikan. Negatifnya pandangan ini telah menepikan rasa, rasa berkaitan dengan letih, lelah, sakit ketika diigigit binatang yang berbisa dan hidup di dalam sawah. Ketiga, sebagaian orang memandang petakan sawah dari dalam sawah. Pandangan ini terasa lengkap dari segi bentuk, isi, dan rasa. Pada posisi ini petani lebih menguasai dan lebih tahu visi dan misi sawah yang mereka garap.
Berkaca pada tiga cara pandangan Mak Katik di atas, pandangan yang lebih cocok melihat fenomena kebudayaan adalah cara pandang ketiga. Sebab cara pandang ketiga ini perasaan terasa lengkap, dimulai dari bentuk, isi, dan rasa. Cara pandang ketiga ini bukanlah sebuah usaha menepikan dan meragukan dua cara pandangan sebelumnya tetapi sekedar sebuah usaha penyempurnaan dan memahami masyarakat dari bawah, mambasuik dari bumi (kearifan lokal).
Sudah begitu banyak kasus yang menimpa bangsa ini, mulai dari Century, Gempa Sumbar, Gayus Tambunan, Terosrisme dan baru-baru ini kasus pemberontakan rakyat di Timika Papua. Perlawanan rakyat cukup menjadi bukti bahwa rakyat sudah berani memperlihatkan kecerdasannya, faktanya rakyat sudah mau mati-matian menuntut apa yang menjadi haknya, walau dengan mengorbankan nyawa sekalipun.
Di sisi lain, dampak yang ditimbulkan dari sekian kasus itu sudah melebar ke segala ranah, kepemimpinan diragukan, krisis identitas menjadi isu utama, dan akhir kata muncul pertanyaan, apa masih ada yang bisa dibanggakan dari bangsa ini? Sudah berpuluh-puluh tahun merdeka tetapi kondisi rakyat masih serupa. Kejadian seperti ini juga akan berakibat fatal bagi hubungan Indonesia dengan negara lain, sebab akan munculnya ketakukan dan ancaman keaaman bagi mereka di saat mereka berkunjung ke Indonesia. Padahal sesungguhnya sudah cukup banyak pembangunan pasca kemerdekaan tetapi hilang begitu saja setelah keputusan-keputusan sepihak direalisasikan.
Identitas Kebudayaan
Terdapat sebuah kebanggan tersendiri bagi masyarakat tradisional memiliki asesoris tertentu. Kebanggan tersebut direalisasikannya ke dalam bentuk perbuatan dan tindakan sehari-hari, meskipun tidak sampai dijadikan sesembahan. Begitulah fenomena yang termaktub pada makam Mbah Peiruk, yang secara sejarah tercatat sebagai pengembang ajaran Islam di Tanjung Periuk. Masyarakat Tanjung Periuk sangat menghargai jasa tersebut, tetapi suatu ketika timbul tindakan yang sepihak ingin menghabiskan situs itu. Masyarakat tentu saja panik dan berusaha membela mati-matian ketika identitas mereka mau dihabiskan begitu saja. Bagi masyarakat Tanjung Periuk, situs Mbah Periuk adalah harga diri, satu-satunya pusaka lama yang masih mereka pertahankan bersama dan bahkan mereka berani mengkleim asal muasal mereka dari sana. Sebuah kesalahan, pengetahuan identitas seperti ini hanya dipahami oleh masyarakat Tanjung Periuk saja. Andai saja pengetahuan dan pemahaman ini diketahui secara bersama oleh kedua pihak, mungkin kasus ini tidak harus meminta tumbal dan image negatif dari beberapa kalangan. Kasus serupa pernah terjadi di Sumbar di saat masyarakat Ulakan Pariaman merasa terusik ketika Makam Syeh Burhanuddin dipertanyakan oleh opini seorang oknum (Singgalang, 2007). Di dalam opini tersebut dikatakan, bahwa Makam Syeh Burhanuddin adalah berhala Budaya, spontan masyarakat Ulakan Pariaman marah dan akhirnya bisa diredam dengan pendekatan persuasif.
Kembali pada Tanjung Periuk, sedih rasanya saat menyaksikan berita televisi, bahkan tanpa sengaja meneteskan air mata. Seolah-olah yang terlihat hanya sebuah perang antara rakyat dengan aparat pemerintahan. Kekejaman dan kebringasan diperlihatkan dengan jelas oleh kedua belah pihak, lebih mirip perebutan makanan bagi orang yang sedang kelaparan. Siapa yang patut dipersalahkan dengan kasus ini?
Menarik benang merah dari kasus di atas, maka sudah selayaknya antara rakyat dan aparat pemerintahan berjabatan tangan dan bersama-sama menyelesaikan persoalan bangsa ini. Saling memberikan pemahaman melalui kecerdasan budaya dan memandang sebuah bentuk adalah kesatuan dari isi dan rasa. Sudah sewajarnya pula rakyat dengan pemerintah duduk bersama, jika kita memang masih mengharapkan kemajuan dari bangsa ini. Saling menyalahkan tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan bangsa dan saling tuduh hanya akan membunuh moralitas dari kesejatiannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
