Oleh. M. Yunis*
Menarik jika membaca cerita kosmologi mitos Yunani. Kala itu Zesus bertentangan dengan saudaranya sendiri, Poseidon. Pertentangan itu diwujudkan hingga ke Bumi. Pada masa itu Zeus kehilangan petirnya, Zeus menuduh anak Poseidon (adik Zeus sendiri) yang mengambil petir tersebut, hampir saja terjadi perang besar di antara dua orang Dewa yang bersaudara itu. Ternyata setelah fakta terungkap, si pencuri petir Zeus bukanlah anak Poseidon, melainkan anak dari seorang musuh berbuyutan kerajaan Dewa Olympus, pada waktu itu dikurung di dalam neraka dialah Hades. Isu hilangnya petir Zeus diindikasikan adanya usaha perebutan kekuasaan pucuk pimpinan Dewa yang menguasai alam semesta.
Cerita mitos di atas mengidikasikan adanya perebutan kekuasaan oleh pihak tertentu terhadap Zeus karena sudah lama berkuasa. Sudah sepatutnya Zeus memberikan kekuasaannya kepada yang muda. Hal itu diusahakan oleh Hades dengan putranya, Hades sendiri sudah lama terkurung di dalam neraka, dia ingin bebas dan merebut kekuasaan Zeus. Bagi Hades sudah saatnya kekuasaan diroling dan barulah terlihat keadilan di dalam pelaksanaan kekuasaan.
Secara langsung Mitos Yunani di atas memang tidak berkaitan dengan cerita Tanjung Periuk membara. Tetapi adanya kesamaan tanda dan penanda yang dinginkan mengindikasikan kesejajaran Mitos Yunani dengan Pasca kejadian di Tanjung Periuk. Pasca bentrok Tanjuang Periok 14 april 2010, dikatakan adanya unsur lain, adu domba oleh pihak yang mempunyai kepentingan, politis, kekuasaan dan lain sebagainya (Padang Ekspres, Kamis/15 April/2010).
Pandangan di atas dianggap wajar karena semakin memanasnya suasana politik di Indonesia, semuanya seakan-akan patut dipertanyakan, termasuk agama, ideologi rakyat, dan kebudayaan. Kiranya bisa dianggap sebagai tameng yang ampuh di dalam memperkuat pengaruh. Sementara itu pernyataan-pernyataan dan isu-isu yang muncul dari tanda simulakra dibungkus ke dalam rantai abadi tanda melalui media, slogan politis. Jika tidak bisa dikatakan sebuah arketif, taktik itu dianggap lebih mampu menanggulangi persoalan di tingkat bawah. Tetapi, sesunggunya di sela-sela percaturan kepentingan tersebut terdapat tanda-tanda liar yang sengaja dikembangkan, dan tanda yang daur ulang terhadap tanda-tanda masa lalu untuk kepentingan masa sekarang. Kasus Tanjung Periuk adalah daur ulang dari tanda-tanda Mitos Yunani di atas. Kerusuhan yang diidentikan dengan perebutan kekuasaan, nilai-nilai politis tertentu, roling kekuasaan seperti yang terjadi dalam mitos Kerajaan Para Dewa Yunani, dianggap sebuah fobia tertentu dan tentunya membahayakan bagi pemerintahan yang sah.
Kecerdasan Budaya
Menarik sekali membaca tulisan Fadlillah tentang Kecerdasan Budaya (2007). Fadlillah menjelaskan bahwa adanya kebiasaan lupa atau sengaja dari kepentingan politis untuk menepikan kecerdasan budaya. Kecerdasan budaya yang dimaksud Fadlillah adalah adanya tradisi membaca pada masyarakat tradisional, tradisi menghormati hukum, tradisi menghargai peninggalan lama, dan juga tradisi menghargai mitos setempat. Baginya timbulnya tradisi mengancurkan peninggalan lama, artefak sejarah, cerita-erita lama adalah tradisi kebodohan yang selalu di pelihara.
Fadlillah ingin menegaskan bahwa penyelesaikan konflik di tingkat bawah harus dilakukan dengan pembacaan budaya, tradisi (persuasif). Pendekatan ini tidak perlu melibatkan unsur negatif, seperti logos kuno, ketinggalan zaman. Pembacaan seperti ini diharuskan menepikan pengetahuan konvensional yang selama ini diterima dari atas, seperti pepatah minang, ‘’titiak dari ateh (titisan penguasa)’’ sudah sepatutnya ditukar dengan ‘’mambasuik dari bumi (kearifan lokal)’’. Kearifan-kearifan lokal seperti ini lebih bermanfaat untuk memupuskan semangat rakyat bawah dalam melakukan tindakan anarkis yang pada akhirnya merugikan kedua belah pihak, baik pemerintahan maupun dari rakyat.
Pendapat yang serupa pernah dinyatakan oleh Mak Katik budayawan Sumatra Barat (Diskusi kebudayaan tahun 2007 di Hotel Ambacang Padang sebelum gempa). Menurutnya, ada tiga cara pandang dalam melihat sebah fenomena kebudayaan, dicontohkannya pada sepetak sawah petani. Pertama, sebagian orang memandang sawah dari atas bukit, yang tampak hanya petakan sawah dan petani yang sedang mengaduk-ngaduk di dalam petakan sawah yang berwarna hijau. Arti kata hanya bentuk saja yang terlihat. Cara pandang ini melupakan dan mensamarkan adanya air, tanah lumpur, dan mahluk hidup yang hidup di dalam petak sawah sebagai isi. Kedua, sebagian orang memandang sawah dari atas pematang sawah. Pandangan seperti ini akan memperjelas gambaran petakatan sawah terdapat seorang petani, air, tanah, tumbuhan padi, dan ikan. Negatifnya pandangan ini telah menepikan rasa, rasa berkaitan dengan letih, lelah, sakit ketika diigigit binatang yang berbisa dan hidup di dalam sawah. Ketiga, sebagaian orang memandang petakan sawah dari dalam sawah. Pandangan ini terasa lengkap dari segi bentuk, isi, dan rasa. Pada posisi ini petani lebih menguasai dan lebih tahu visi dan misi sawah yang mereka garap.
Berkaca pada tiga cara pandangan Mak Katik di atas, pandangan yang lebih cocok melihat fenomena kebudayaan adalah cara pandang ketiga. Sebab cara pandang ketiga ini perasaan terasa lengkap, dimulai dari bentuk, isi, dan rasa. Cara pandang ketiga ini bukanlah sebuah usaha menepikan dan meragukan dua cara pandangan sebelumnya tetapi sekedar sebuah usaha penyempurnaan dan memahami masyarakat dari bawah, mambasuik dari bumi (kearifan lokal).
Sudah begitu banyak kasus yang menimpa bangsa ini, mulai dari Century, Gempa Sumbar, Gayus Tambunan, Terosrisme dan baru-baru ini kasus pemberontakan rakyat di Timika Papua. Perlawanan rakyat cukup menjadi bukti bahwa rakyat sudah berani memperlihatkan kecerdasannya, faktanya rakyat sudah mau mati-matian menuntut apa yang menjadi haknya, walau dengan mengorbankan nyawa sekalipun.
Di sisi lain, dampak yang ditimbulkan dari sekian kasus itu sudah melebar ke segala ranah, kepemimpinan diragukan, krisis identitas menjadi isu utama, dan akhir kata muncul pertanyaan, apa masih ada yang bisa dibanggakan dari bangsa ini? Sudah berpuluh-puluh tahun merdeka tetapi kondisi rakyat masih serupa. Kejadian seperti ini juga akan berakibat fatal bagi hubungan Indonesia dengan negara lain, sebab akan munculnya ketakukan dan ancaman keaaman bagi mereka di saat mereka berkunjung ke Indonesia. Padahal sesungguhnya sudah cukup banyak pembangunan pasca kemerdekaan tetapi hilang begitu saja setelah keputusan-keputusan sepihak direalisasikan.
Identitas Kebudayaan
Terdapat sebuah kebanggan tersendiri bagi masyarakat tradisional memiliki asesoris tertentu. Kebanggan tersebut direalisasikannya ke dalam bentuk perbuatan dan tindakan sehari-hari, meskipun tidak sampai dijadikan sesembahan. Begitulah fenomena yang termaktub pada makam Mbah Peiruk, yang secara sejarah tercatat sebagai pengembang ajaran Islam di Tanjung Periuk. Masyarakat Tanjung Periuk sangat menghargai jasa tersebut, tetapi suatu ketika timbul tindakan yang sepihak ingin menghabiskan situs itu. Masyarakat tentu saja panik dan berusaha membela mati-matian ketika identitas mereka mau dihabiskan begitu saja. Bagi masyarakat Tanjung Periuk, situs Mbah Periuk adalah harga diri, satu-satunya pusaka lama yang masih mereka pertahankan bersama dan bahkan mereka berani mengkleim asal muasal mereka dari sana. Sebuah kesalahan, pengetahuan identitas seperti ini hanya dipahami oleh masyarakat Tanjung Periuk saja. Andai saja pengetahuan dan pemahaman ini diketahui secara bersama oleh kedua pihak, mungkin kasus ini tidak harus meminta tumbal dan image negatif dari beberapa kalangan. Kasus serupa pernah terjadi di Sumbar di saat masyarakat Ulakan Pariaman merasa terusik ketika Makam Syeh Burhanuddin dipertanyakan oleh opini seorang oknum (Singgalang, 2007). Di dalam opini tersebut dikatakan, bahwa Makam Syeh Burhanuddin adalah berhala Budaya, spontan masyarakat Ulakan Pariaman marah dan akhirnya bisa diredam dengan pendekatan persuasif.
Kembali pada Tanjung Periuk, sedih rasanya saat menyaksikan berita televisi, bahkan tanpa sengaja meneteskan air mata. Seolah-olah yang terlihat hanya sebuah perang antara rakyat dengan aparat pemerintahan. Kekejaman dan kebringasan diperlihatkan dengan jelas oleh kedua belah pihak, lebih mirip perebutan makanan bagi orang yang sedang kelaparan. Siapa yang patut dipersalahkan dengan kasus ini?
Menarik benang merah dari kasus di atas, maka sudah selayaknya antara rakyat dan aparat pemerintahan berjabatan tangan dan bersama-sama menyelesaikan persoalan bangsa ini. Saling memberikan pemahaman melalui kecerdasan budaya dan memandang sebuah bentuk adalah kesatuan dari isi dan rasa. Sudah sewajarnya pula rakyat dengan pemerintah duduk bersama, jika kita memang masih mengharapkan kemajuan dari bangsa ini. Saling menyalahkan tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan bangsa dan saling tuduh hanya akan membunuh moralitas dari kesejatiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar